Oktober 22, 2009

Boneka Berbie ...


Manado ...
Dua hari saja. Buku dan kaos laris terjual. Sudah balik modal plus keuntungan. Aku langsung berpikir tentang permintaan Diah. Dua hari belakangan, Diah selalu saja ngambek jika aku pulang dengan tangan kosong, tanpa membawa pesanan nya. Boneka berbie nama mainan itu. Karena keuntungan penjualan buku tidak terlampau banyak, aku mamanej nya menjadi beberapa bagian. Buat makan, di tabung dan mainan Diah.

Sore itu selepas dari Jarod, ku langsung menuju salah satu mall yang sering sekali di sebut Diah. Sembari melankahkan kaki, aku membayangkan senyum manja dan bahagia dari Diah. Ketika tiba di Mall. Aku ingat posisi counter mainan yang di jelaskan Diah. Lantai 3 di pojok sebelah kiri eskalator. aku langsung menuju toko mainan itu.

Segera saja aku bertanya ke petugas counter. Boneka berbie ? langsung di tunjukan posisi pajangan boneka wara laba itu. pilihan nya bagus-bagus. Ada yang pake baju pesta, baju pantai, baju kerja, dan masih banyak lagi. Pesanan Diah, yang pake baju kerja ya .... Ok, aku langsung mengambil salah satu boneka dengan tampilan baju kerja. Tanpa banyak mengamati aku langsung menuju ke kasir. Sembari melangkah ke kasir, HP ku bergetar. Sebagai gerilyawan, HP adalah alat komunikasi yang tidak bisa mati. kali aja ada yang mau di bela hehehehe ....Oh ternyata ada telepon dari teman ku.

suara nya lirih. terbatah, mengendus dan terdengar sedih. Tanpa basa basi dia langsung berkata "Rul, aku pinjam uang ...plis" aku berhenti sejenak. Kira-kira dua langkah dari meja kasir. Aku memutuskan untuk mendengar dulu kejelasan ucapan temanku di balik telepon. Di mengulangi kata-katanya lagi "rul, bisa pinjam uang ??? saya butuh sekali uang sekrang, bapak saya masuk rumah sakit" Aku menunduk sejenak, sembari melangkah pelan menjauh meja kasir.
"tenang dulu, kenapa ? bapak masuk rumah sakit mana ?" aku memutuskan untuk menengkannya.
"rumah sakit malalayang,baru sore ini di bawa. butuh biaya untuk biaya masuk, bisa rul"
"berapa biaya nya bro ?"
dia menyebutkan nominal uang. pikiran ku langsung bergerak seperti mesin penghitung uang. Menghitung uang ku yang ada di dompet, keuntungan penjualan buku dan kaos.
"baik dua menit dari sekarang aku sms kamu, untuk ngambil uang itu"
aku langsung berbalik badan, menuju rak pajangan boneka wara laba itu, meletakkan boneka yang nyaris menjadi milik Diah, kembali ke rak tersebut.
Uang makan juga harus ke potong beberapa persen untuk di pinjamkan.

Kita ketemu dan uang yang dibutuhkan aku kasih.

Sesampai di rumah, Diah terlihat cemberut seperti kemarin. Aku merangkulnya dan menjelaskan yang terjadi. yan di akhir penjelasan aku menekankan bahwa, membantu orang lebih penting dari boneka wara laba ... Diah yang entah mengerti atau tidak, tetap cemberut.

4 tahun kemudian.

Jakarta ...
Diah menelpon dengan nada manja dari manado. Meminta di belikan paket buku dari sekolah. Diah menjelaskan. Meski sekolahnya gratis, tapi buku nya bayar ...
setelah tutup telepon dari Diah. aku langsung menghitung kalkulasi tabungan yang semakin mengempis belakangan. Aku langsung menuju ATM untuk mentransfer uang pembelian buku Diah.

Saat menuju ATM, HP ku bergetar. aku lihat di tampilan layar. Ada nomor tak dikenal memanggil. meski sedang mengendarai motor, aku memutuskan untuk mengangkatnya.
"Rul, apa kabar ?"
"bae, ini siapa ?"
Aku putuskan untuk menepi. Dan berkonsentrasi menelpon.
Lawan icaraku dari balik telepon tertawa dengan terbahak. Oh ternyata teman lamaku. Setelah basa basi dan tawa canda menghiasi pembicaraan kami. Dia langsung menanyakan nomor rekeningku. Praktis aku kebingungan. Dia lalu mengingatkan mengenai hutang yang pernah dia pinjam untuk berobat bapaknya. Dia ingin mengantinya setelah empt tahun berlalu.
Wah sangat kebetulan sekali pikirku. Aku langsung menyebutkan dengan jelas nomor rekeningku. Dia menceritakan mengenai kesuksesannya mengelola tambang di daerah Maluku Utara. Sukses dan sudah bisa mengongkosi bapaknya naik haji juga cek up rutin ke rumah sakit.
Selesai pembicaraan ...aku langsung mengecek ke ATM. Ada penambahan jumlah. Jumlah hutang yang aku pinjamkan plus 100 persen bonus .....
langsung ku pencet nomor rekening ibu nya diah, untuk mentransfer uang buku plus beliin boneka.

Aku lalu membayangkan senyuman Diah ... kali ini tidak usah di jelaskan. Mungkin Diah akan paham seiring perjlanan hidupnya.

Oktober 21, 2009

Cerita ini ...


kukira sudah engkau ...
ternyata masih bukan
terlalu cepat untuk bisa
menjadi "engkau"
yang sudah tidak "bukan" lagi ...

kita dicaci seperti anjing
dan dihina haram seperti babi
seakan kita tak berwajah
padahal kita punya rasa ...

kita pernah bicara tentang
anak kecil yang ruas-ruas wajahnya
mencuri paras cantikmu dan keegoanku ..
berteriak dengan sayupan mama dan papa ...
Sembari menegaskan mimpi yang menyata ..

kita pernah berselimutkan semangat
bercita-cita tentang kesederhanan hakiki ...
berbicara dengan rasionalitas
namun menenangkannya dengan hati ...

aku kira "sudalah" engkau ...
tapi ternyata "bukan"
masih ada jalan dan tapakan yang selanjutnya

mari buka mata dan melangkahkan kaki

sampai bertemu kelak

ketika kita sudah sadar
bahwa mimpi ternyata' tak selalu menjadi kenyataan ...