September 29, 2008

Masyarakat Konsumsi Beralih Fitri.

Manado post hal.Opini
Sebenarnya wacana tentang fenomena masyarakat konsumsi, lahir dari spirit ilmuan sosial Post-Modernisme Eropa yang menafsir fenomena sosial di bawah kungkungan kapitalisme glogal, yang saat ini menjadi kekuatan dominan di dunia Internasional baik politik mau pun ekonomi. Jika dulu fenomena keberlangsungan ekonomi dunia (paska perang dunia II) menitik beratkan pada peningkatan aktivitas produksi, namun sekarang sudah bergeser menjadi orientasi konsumsi yang berlebihan.
Kita ketahui bersama bahwa diera pemasaran iklan ini, kekuatan kapitalisme, sebagai kekuatan dominan penguasaan ekonomi politik, sudah mengeserkan orientasi mereka lebih kepada bagaimana melakukan pemasaran yang efektif untuk mendapatkan peningkatan ektivitas konsumsi dari masyarakat dunia (kapitalisme lanjut). Aktivitas produksi mereka, sudah di serahkan kepada masyarakat dunia ketiga ( Negara-negara berkembang termasuk Indonesia). Fenomena ini dapat digambarkan ketika bertumbuhnya pabrik-pabrik produk luar di Indonesia, dengan melakukan pemanfataan pada wilayah buruh murah dan eksploitasi sumber daya alam di tanah air.
Hal ini juga tidak bisa terlepas dari regulasi kebijakan dalam negeri Indonesia sendiri yang membangun kekuatan ekonominya, sangat bergantung kepada investasi asing yang menjanjikan kesejahteraan semu bagi masyarakat. Ketergantungan ini sudah terbukti gagal ketika krisis ekonomi pada beberapa tahun lalu. Standarisasi kesejahteraan, dinilai dari bertumbuhnya infrastuktur yang megah, ruang public baru seperti mal-mal dan pusat perbelanjan yang mengalahkan rumah-rumah ibadah. Wan hasil kemegahan tersebut mampu menutupi sebagian besar masyarakat Indonesia, (yang sebagian besar masyarakat religius) yang terjerat dibawah garis kemiskinan.
Lihat saja kehidupan dikota-kota besar. Kemiskinan merupakan hal biasa dan kesenjangan sangat terbuka lebar. Kemagahan-kemegahan yang ditimbulkan dari system ekonomi dalam negeri yang tergantung pada Investasi asing dan orientasi persaingan pasar bebas ini, membuat potensi kekuatan ekonomi local seperti pengusaha-penusaha local atau kekuatan ekonomi lain (keturunan Arab dan Cina) menjadi kelompok masyarakat kedua dilapisan ekonomi, setelah bangsa Amerika dan Eropa. Akhirnya yang terjadi, yang memiliki kesempatan untuk menggarap potensi lokalitas baik sector ekonomi industri mau pun pemanfataan sumber daya alam, kelas pertamalah yang mendapat kesempatan terlebih dahulu. Akibat yang ditimbulkan adalah, terjadi pengerucutan kekayaan pada kelompok tertentu (kelompok asing barat dan orang-orang yang memiliki akses kekuasaan) dan malah memiskinkan kelompok lain, yang nota benenya adalah masyarakat asli pada umumnya.
Kembali pada masyarakat konsumsi. Industrialisasi perdagangan kekinian, sangat syarat dengan strategi pemasaran iklan yang luar biasa kencang. Logika pemasaran iklan ini mampu menembus sendi kehidupan masyarakat dengan berupaya menciptakan gaya hidup modern yang berkiblat pada referensi-referensi yang hadir lewat teknologi media Informasi. Pada tahapan seperti ini, masyarakat seakan tidak diberikan pilihan lain selain mengikuti trend gaya hidup yang sudah di stel atau di atur oleh para ahli marketing produk-produk yang telah disediakan. Polah marketing modern ini merubah pola pikir masyarakat menjadikan seluruh produk yang dihasilkan harus dalam koridor barang primer (kebutuhan utama), walau terkadang produk atau barang tersebut sebenarnya, tidak terlalu dibutuhkan oleh kelompok masyarat.
Fenomena yang paling menarik adalah ketertundukan masyarakat pada gedung-gedung megah pusat perbelanjaan, ketergantungan pada perangkat-perangkat multi media seperti HP berkamera, kamera digital, rumah dengan desain Eropa, mobil import dengan paket kredit yang memudahkan pembelian dan masih banyak lagi yang akhirnya memainkan hasrat para objek marketing, yang dalam hal ini adalah masyarakat. Dunia periklanan modern lebih mejual imej atau pencitraan dibanding menjual produk secara substansial. Seorang ibu rumah tangga akan terlihat mengikuti trend ketika dia bisa menikmati masakan-masakan siap saji yang disuguhkan di berbagai pusat perbelanjaan. Merek merupakan pencitraan eksistensi kedirian masyarakat konsumsi. Seseorang akan merasa risih ketika merk HP-nya tidak terlalu terkenal dan tidak mengunakan kamera. Penjualan pencitraan ini menggeser kesadaran masyarakat lebih kepada aktivitas bermimpi dibanding membeli.
Kekuatan-kekuatan bahasa iklan tersebut, membuat masyarakat teralienasi atau terasing dari eksistensi dirinya sendiri. Bahasa pesan dalam iklan menyiratkan sesuatu yang semu, penekanan dan keterasingan juga mimpi-mimpi. Sturuktur dalam bahasa-bahasa pesan menunjukan “penekanan” dan tidak dalam proses “dialog” yang dua arah. Masyarakat seakan hanya diberi pilihan dan mimpi. Setelah itu dibiarkan menjadi kaku dengan gambaran keterdesakan gaya hidup yang sudah ditawarkan. Masyarakat akhirnya sangat menggandrungi kelamoran, suka ria, sehingga melupakan keberadaan mereka secara politik dan keberlangsungan mereka secara sosial.
Kekuatan Komersil yang menyiratkan keglamoran ini juga menyeruak ke dalam sendi kehidupan beragama didalam masyarakat. Dunia komersialisasi menawarkan sesuatu yang glamour dalam kehidupan bermasyarakat di wilayah keagamaan. Kita semua bisa bayangkan kalau masyarakat dikonstruk daya pikirnya untuk menikmati semiotic (tanda-tanda symbol) agama yang diciptakan oleh dunia industri perdagangan. Dunia marketing merubah pola hidup beragama masyarakat kebanyakan. Anda bisa bayankan ketika orang yang berkecukupan lebih memilih untuk membelanjakan rezekinya untuk hal-hal yang hanya bersifat simbolik di dalam agama dibanding mengerjakan sesuatu yang sustansial dalam beribadah. Misalnya seorang kaya lebih memilih menghiasi ruang tamunya dengan tulisan kaligrafi megah dengan harga jutaan rupiah dibanding menyumbangkannya ke panti-panti asuhan atau fakir miskin. Bermunculan pula paket-paket perjalanan haji seperti paket perjalanan wisata yang harganya lumayan mahal. Belum lagi bermunculan trend pakaian muslim dan muslimah yang mengikuti salah seorang dai kondang, dengan harga yang beragam. Produk-pruduk makanan, minuman dan obat suplemen yang memanfaatkan buka puasa dan sahur sebagai pintu masuk pemasaran, membuat kita merasa sangat khusuk beribadah ketika sudah memenuhi syarat yang disodorkan oleh para pengiklan tersebut.
Kondisi ini menginterupsi spirit ketauhidan didalam Islam dan memberi alternative penghambaan kepada umat, dalam menjalankan setiap ibadah (baik ibadah sosial mau pun ibadah individu) Keberlangsungan fenomena ini menyiratkan pergeseran kekhusuhan kita dalam beribadah. Umat akan lebih memilih untuk menjadi hamba “merek produk” dibanding hamba Allah SWT. Bukankah frem peribadatan harus dalam koridor yang selama ini dipesankan didalam agama. Bahwa marilah kita beribadah dalam keadaan khusuk dan tidak terlalu berlebihan dalam penampilan. Komersialisasi agama ini menghancurkan nilai-nilai harfiah keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah pula frem konsumsi dalam Islam hanya untuk pemenuhan ”bekal ibadah” (Moeslim Abdurahman, Islam Sebagai Kritik Sosial). Dan bukankah men-gilai sesuatu yang bukan Allah SWT adalah suatu tindakan yang sirik. Mungkin berhala seperti yang diceritakan dalam kisah-kisah Nabi telah meniada secara bentuk, tapi jangan pikir sudah menghilang secara substansi. Penghambaan terhadap imej dan citra produk yang ditawarkan oleh kapitalisme global, juga merupakan bentuk penghambaan berhala secara kontemporer.
Disini kita harus benar-benar membangkitkan kembali peran agama dalam melihat fenomena sosial kekinian dalam wilayah penerapan ibadah dan upaya siar agama. Kapitalisme global dengan spirit konsumsinya, tidak mengenal agama dan jenis kelamin. Spirit ini mampu merubah rupanya sesuai dengan apa pun kebutuhan masyarakat dan mampu merebut kekuatan sosial apa pun untuk men-gol-kan upaya pemasarannya, termasuk merebut citra agama untuk kemudian dikomersialisasikan.
Di bulan yang diserukan untuk menahan seluruh hasrat yang berlebihan pun tidak lolos dari target hantaman pemasaran. Setiap produk, mulai dari mobil mewah sampai industri tekstil memanfaatkan Ramadhan untuk membuat laku barang mereka. Idel fitri yang seharusnya ditafsir sebagai suka ria kemenangan terhadap penghentian “hasrat berlebihan” akhirnya menjadi tumpahan hasrat membelanjakan barang dan jasa demi aplikasi simbolik agama. Padahal ada infak dan sedekah yang seharusnya menjadi prioritas kita. Namun hal tersebut terkadang terlupakan bahkan ditiadakan sama sekali oleh orang-orang yang mampu di kalangan Islam ketika mengakhiri Ramadhan. Kita akan lebih terasa resah ketika pagar rumah belum dicat rapih dan sofa ruang tamu belum diganti, dibanding memikirkan seruan panitia zakat dan infak dari pengerah suara mesjid. Menjelang akhir ramadhan. Padahal akhir ramadhan adalah hari kemenangan dari perang terberat kita melawan hawa nafsu, yang salah satunya adalah hidup berlebih dan melupakan fakir miskin.
Sementara itu dalam Islam, seperti yang kita ketahui bersama ada spirit ketauhidan yang meng-Esa-kan Allah dalam frem apa pun. Sehingga kajian-kajian ketauhidan dan pengkajian Al-Quran harus diarahkan untuk mampu menjawab tantangan kekinian sesuai dengan perkembangan zaman. Musuh agama dalam wilayah moralitas sudah semakin samara menampakkan dirinya. Sehinga kita harus mampu memenej kajian-kajian keagamaan menembus wilayah-wilayah kekakuan agama, untuk bisa mengkonstruksi penafsiran kita terhadap zaman.
Ramadhan mendesak kita untuk bisa kembali kepada fitrah sebagai manusia seutuhnya. Eksistensi kesederhanaan dan kejujuran yang memang merupakan sifat dasar manusiawi. Islam memang keyakinan yang tidak menentang kepemilikan harta dan pemenuhan hasrat duniawi. Namun spirit ketauhidan menginterupsi hasrat kita untuk tidak rasional melakukan kejaran duniawi dan keserakahan yang gila-gilaan sehinga menciptakan kerenggangan sosial dan menghentikan silaturahmi seutuhnya antar umat. Dengan menginterupsi keserakahan kita, maka semua kita akan terjalin dalam satu silaturahmi yang inklusif dan bersahaja. Tatanan seperti ini menhilangkan kerenggangan antara manusia. Entah penguasa dan rakyatnya, kaya dan miskin, kelompok satu dan lainnya. Perbedaan tidak dipilah dari segi kepemilikan harta, tapi kekhusuan ibadah.
Sabda Rasullulah SAW “makanlah engkau setelah merasa lapar, dan berhentilah engkau sebelum merasa kenyang” kiranya bisa dikontekstualkan untuk menanggapi desakan komersialisasi agama, secara kekinian. Mampukah kita menahan hasrat untuk tidak dimaikan kapitalisme global dan menjadi masyarakat dengan citra-citra semu, melainkan beralih peran menjadi manusia dengan peribadatan sempurna pada ketauhidan. Tentu terlalu naïf kita segera memberi lebel haram terhadap seluruh produk yang berupaya di pasarkan. Marilah tangapi serangan pemasaran tersebut sebagai cobaan yang paling keras untuk menjadi spirit untuk terus berusaha dan bangkit untuk bekerja lebih giat dan menciptakan prestasi. Sehingga jika pun kita termasuk orang-orang yang beruntung secara materi, kita termasuk orang-orang yang tidak hanya akan larut dalam upaya mengkonsumsi seluruh harta dijalan yang sesat, melainkan membelanjakannya di jalan Allah (Jihad yang sesunguhnya). Sekali lagi ini semua bisa terselesaikan dengan upaya memodifikasi pemahaman agama dari pemahaman tekstual menuju pengkajian kontekstual. Dan marilah berkhusuk ria didalam ibadah karena ridho Allah bukan tampilan merek produk yang di suguhkan kapitalisme global. Ramadhan adalah ruang yang paling nyata bagi kesederhanaan dan kehkusuan ibadah, karena sangat bersifat personal namun memiliki implikasi sosial yang sangat besar. Sehingga dalam kesempatan ramadhan kali ini, marilah menciptakan kesederhanaan secara personal untuk mencapai kemaslahatan umat secara sosial. Selamat meraih kemenangan di hari yang Fitri.

September 15, 2008

Benarkah Amin Rais Menyelamatkan Indonesia????

Dalam sebuah kesempatan yang sangat beruntung saya berkesempatan mewawancarai seorang tokoh besar yang sangat di kenal kapabilitas intelektualnya. Bang Amin Rais. Wawancara kami seputar buku Selamatkan Indonesia yang ditulis beliau.
Berbeda dengan bang Akbar Tanjung yang menulis buku tentang partai yang pernah beliau pimpin. Bang Amin lebih memilih untuk menghadirkan sebuah wacana yang sebenarnya tidak baru di Indonesia. Wacana yang ditawarkan bang Amin adalah sebuah wacana alternative yang sudah lama diusung para aktivis kiri negeri ini.
Dari wawancara dan buku yang sudah saya baca secara tuntas, bang amin berupaya menginterupsi wacana dominant yang selama ini mengakar dan menjadi mainstream utama di Indonesia dan dunia global. Sebuah pembongkaran makna ketergantungan semu antara Negara ini, dengan modal asing yang sudah berjalan sangat lama. Penjajahan gaya baru (neo-kolonialisme) yang dibangun lewat pemikiran ekonomi pembangunan ala mafia barkley yang sudah lama terpraktekkan di negara ini. Dari spirit ini, sehingga Negara ini mengalami kerugian sangat besar di wilayah ekonomi. Pengerukan kekayaan ekonomis secara tidak berimbang yang dilakukan Negara asing, mengakibatkan Negara ini tidak memiliki keuntungan sedikit pun dari potensi ekonomi yang dimilikinya. Bang Amin mencontohkan beberapa Negara Amerika Latin yang mempraktekkan perlawanan terhadap pola penjajahan gaya baru ini lewat pemimpin mereka (evo morales dan hugo saves).
Wacana diatas sebenarnya sudah lebih dahulu dihembuskan para aktivis LSM dan mahasiswa yang kebetulan memiliki prespektif Marxian. Ada (Alm) Mansour Fakih dengan intelektual organignya. Fakih sangat gamblang menawarkan solusi tentang kondisi Negara ini yang mengalami penjajahan gaya baru. Selanjutnya Ravrison Baswir yang menekankan perspektif ekonomi anti utang luar negeri. Yang terakhir ada Eko Prasetio dengan bisnis percetakan wacana alternatifnya (RESIS) sangat intens memproduksi tulisan-tulisan dengan wacana serupa. Mereka tidak sebatas menggambarkan kondisi dan menanyakan solusi dan siapa actor yang akan melakukan perbaikan-seperti yang dilakukan Bang Amin dalam Selamatkan Indonesia. Mereka sudah sampai pada level mendebatkan konsep apa yang paling tepat untuk menginterupsi kecendrungan yang terjadi akibat alienasi wacana global di wilayah ekonomi politik ini.
Sebagai tokoh besar, Bang Amin sebenarnya telat mengkucurkan dan mencermati kondisi ini. Kesimpulan ini saya tarik karena saat Bang Amin memiliki kekuasaan menjadi ketua MPR, ada beberapa asset Negara ini yang kemudian lepas ke pihak asing. Praktek eksploitasi ekonomi dan sumber daya alam juga penanda tanganan perjanjian-perjanjian baru dengan lembaga-lembaga Internasional terjadi dengan mulusnya.
Seandainya bang Amin secepat para tokoh yang tidak terlalu popular dan tidak memiliki struktur kekuasaan itu menyadari kondisi ini, mungkin beliau sudah menjadi Evo Morales-nya Indonesia. Atau setidaknya menjadi Fidel Kastro-nya Indonesia. Namun tidak mengapa, orang sekaliber bang Amin sudah menyadari bahwa ada sesuatu dengan kondisi perekonomian makro Negara ini. Ada yang tidak becus tentang kepemimpinan Negara ini saat menjalin hubungan politik global. Bang Amin sudah benar-benar menyadari bahwa kita selama ini ditipu dengan berbagai macam wacana yang terlihat WAH dan menggiurkan padahal malah menghancurkan kita secara perlahan. Wacana ini yang dikatakan Francis Fukuyama sebagai Demokrasi Liberal. Sebuah waham yang memenangkan pertarungan sejarah dan akhirnya menyelesaikan perjalanan sejarah tersebut. Fukuyama lupa, bahwa sejarah tidak akan pernah berhenti selama ada penindasan yang memekar. Sebab itu sudah menjadi Sunatullah atau ketentuan Ilahiah. Ingat Feodalisme yang pernah mekar berabad-abad akhirnya juga selesai dan runtuh oleh kondisi yang tidak berimbang yang diciptakannya sendiri. Demokrasi liberal dengan spirit Kapitalisme dan globalisasi baru saja lending selama satu abad. Namun sudah mengalami krisis di sana sini.
Selamatkan Indonesia tidak hanya tugas bang Amin. Tapi semua diantara kita yang punya rasio dan tidak buta melihat kondisi rill yang terjadi…semoga kita tidak terlambat menyadari kondisi ini sebelum benar-benar sulit untuk diselesaikan…..

Mari Belajar Secara Sederhana….
Aku terlibat pembicaraan dengan ibu-ibu di kompleks tempat aku tinggal. Pembicaraan mereka kali ini sedikit menarik dari yang sudah-sudah. Mereka sedang membicarakan berita yang baru saja di tayangkan oleh salah satu tv swasta. Tayangan tv itu memberitakan tentang meninggalnya 21 orang di salah satu daerah di Indonesia, saat berebut mendapatkan zakat yang dibagikan.Para ibu-ibu yang juga dari kalangan sederhana ini, terkaget-kaget dengan kondisi ini. Mereka ngeri dan bahkan ada yang merinding membicarakan berita tersebut. Menurut mereka ini sebuah kondisi yang sangat tidak masuk diakal. Ada 21 orang hanya di satu tempat saja yang meninggal karena berebut bantuan.

Ibu-ibu ini dari kalangan yang tidak berpendidikan. Mereka hanya bisa berpendapat kecut dengan kondisi ini. Mereka menanyakan kemana para pemimpin Negara ini? Yang sebentar-sebentar membeberkan data tentang menaiknya pertumbuhan ekonomi di Negara ini. Ada yang menggerutu tentang tampilan para elit yang terlihat sangat cerdas saat tampil di depan kamera tv menerangkan tentang setiap program yang sudah di lakukan oleh pemerintah.

Ibu-ibu itu menghadirkan kekecewaan. Amarah tapi juga pesimistis yang tinggi. Jika pun marah, kecewa, geli terus apa yang bisa mereka lakukan? Gerutu itu hanya mengambang dan selalu saja berlalu bagai debu yang tertiup angin.

Mereka akhirnya pesemis terhadap apa pun yang diprogramkan pemerintah. Pemerintah akhirnya absent dari harapan mereka sebagai warga Negara. Pemerintah seperti institusi kosong yang hanya menghadirkan harapan semu dan melakukan anomaly terus-terusan.

Mereka geli dengan berjuta tokoh nasional yang mengiklankan dirinya sebagai lokamotif pembangkit gairah berbangsa dan bernegara di tv-tv swasta. Para elit itu mengajak berbuat, menyelamatkan, memperbaiki, memodivikasi dan berjubel slogan normative. Para ibu-ibu ini sudah paham, iklan-iklan ini hadir karena sebentar lagi ada momen politik yang merupakan sebuah ajang perebutan dan pendistribusian kekuasaan. Para ibu-ibu ini sadar, pesta itu hanya untuk mereka yang mengiklankan dirinya di tv dan mereka yang wajahnya terpampang di spanduk-spanduk sepanjang jalan utama dan lorong-rolong kampung.

Pesta demokrasi yang akan digelar pada 2009 nanti hanya sebuah gempita kebohongan dan janji-janji palsu para caleg dan para capres juga cawapres. Mereka merasa terekspolitasi dan termanfaatkan sebagai orang-orang yang lemah. Sebagai sebuah komunitas lemah yang siap diterkam dan mau tidak mau harus terima untuk di badohi untuk kesekian kalinya.

Kita selalu saja merubah mekanisme dan saluran prosudural. Kita lupa memaknai nilai yang harus benar-benar di perjuangkan. Perubahan-perubahan mekanisme yang termodifikasi hanya untuk mempenetrasi gairah berkuasa oleh setiap elit yang sama sekali miskin prespektif bernegara. Mereka hanya memiliki orientasi berkuasa yang miskin makna dan kikir rasa.

Para ibu-ibu ini, akhirnya memilih untuk mengambil sikap yang sama sekali tidak formal karena tidak mungkin diakomodir di dalam bertumpuknya mekanisme aturan yang kita miliki. Mereka memilih untuk tidak seantusias 2004 memilih wakil mereka. Mereka memilih mewakili diri mereka sendiri. Membangun keluarga dan mendidik anak-anak mereka dengan susah payah tanpa ada harapan sedikit pun tentang pemerintah. Mereka menganggap consensus mereka tentang bernegara telah pupus. Mereka di jajah dan tertindas oleh pemerintah dan Negara mereka sendiri. Mereka akhirnya merasa tak memiliki legitimasi secara nilai dan harapan tentang pembentukan Negara.
Setidaknya mari kita belajar dari mereka secara rill dan sederhana. Akan ada kepekaan yang akan hari untuk hati yang mungkin sudah membantu….

September 14, 2008

Gadis di Ponsel dan Membaca Zaman

Gadis itu terlihat riang ditampilkan soft where video ponsel. Tak ada sedikit pun tersirat diwajahnya, tentang suatu waktu ketika adegan yang dibuatnya, akan menjadi konsumsi khalayak ramai. Tak ada beban disetiap gerakan yang dilakukan sembari mencuri-curi pandang layar ponsel. Entah apa yang dia pikir saat itu. Yang pasti tidak tentang masa kecilnya, masa depannya, atau keributan serius yang selalu dihadirkan surat kabar negeri ini, paska reformasi dikumandangkan. Mungkin yang dia tau saat itu, hanyalah sebuah camera- yang menurut keterangan adalah camera ponsel- sedang merekam syahdu setiap gerak yang dia hadirkan. Dia memainkan ritme waktu dalam kesepian menjadi riuh yang ceria tapi juga erotis. Sebuah adegan yang sepi dari keramaian, jauh dari kepentingan, dan senyap dari doktrin dan tata nilai. “Ini hanya untuk ponselku, dia yang sedang berada denganku dan aku. Tidak untuk orang lain” Begitu pribadi dan rahasia, kurang lebih seperti itu yang dia pikirkan.
Namun kesenyapan itu, berubah menjadi riuh khalayak bermoral dan beretika di komunitas tempat dia tinggal. Sebuah riuh khalayak yang entah mengasihani, mencemooh atau tergoda. Yang pasti semua meramaikan pembicaraan tentang kenikmatan teledor yang dia lakukan saat itu. Salah satu wartawan yang lihai menginvestigasi adegan mesum ponsel pun menulisnya di koran kota dengan gamblangnya. Tidak hanya orang dekat yang menikmati berita buruk itu. Teman-teman dekat, saudaranya teman-teman, bapak ibu dari kenalan-kenalan, teman-teman dekat para kenalan, tetangga, saudaranya para tetangga dan akhirnya memenuhi setiap sudut pembicaraan. Baik di rumah kopi atau di meja-meja makan keluarga. Bahkan menjadi standarisasi nasihat setiap orang tua kepada anak gadis mereka.
Beramai-ramailah orang untuk berusaha menutupi sekaligus membuka lebar-lebar aib gadis itu. Pembicaraan tidak hanya seputar lihainya melakukan setiap adegan. Tapi masa kecilnya, aktivitas orang tuanya, lembaga pendidikan tempat dia menuntut ilmu sampai kepercayaan yang dianut. Mengemuka dan tertelanjang tanpa sehelai pun batasan. Pembicaraan itu bahkan mengalahkan reting gosipnya Rahma Azhari yang dengan sengaja membuat foto telanjang untuk koleksi pribadi.
Ini sebuah fenomena yang sedang menjadi petanda perubahan. Yang sadar atau tidak sadar perdebatan teoritis dan ilmiah mengenai fenomena ini, sudah sering diseminarkan dengan pembicara orang-orang pintar. Kita bicara tentang berubahnya kecendrungan pola ekonomi yang kita bangun diatas mantera-mantera pembangunan teori barat. Sebuah mantera yang menitik beratkan kesejahteraan pada wilayah materil dan pengadaan gedung-gedung besar dan megah. Kita bicara tentang keterbukaan politik dengan mengedepankan hak bicara minoritas dan mendewakan kemenangan mayoritas. Kita seakan percaya benar tentang masa depan yang indah tanpa kelaparan dikala investasi menjamur. Padahal kita lupa pada kepastian didepan mata yang sering terjadi dan lewat begitu saja. Sebuah petanda perubahan yang mau tidak mau harus segera direspon dengan serius.
Dalam teori semiotika (teori tanda), fenomena gadis di ponsel itu, bisa menjadi petanda yang cukup kongrit bagi setiap konsukwesi perubahan masa depan. Itu tandanya kita sudah berada di titik yang sangat pasti tentang perubahan dan konsukuwensinya. Sebagai seorang putri yang hidup dizaman yang terlanjur seperti ini, gadis itu bisa dikatakan menjadi pahlawan zaman yang memberi tamparan bagi khalayak (orang tua mau pun kita sebagai anak muda) bahwa “ini loh perubahan” fenomena ini menjadi gambaran kongkrit betapa kita semua sangat tidak siap dengan kecendrungan yang mulai berubah. Secara eksplisit kita memang sulit membaca bahwa ada kesalahan yang terjadi dengan kecendrungan perubahan ini, tapi jika periksa lebih jauh, ada semacam pemaksaan sebuah kondisi yang sebenarnya belum siap diterima atau belum sempat diterima khalyak, karena mungkin kecendrungan ini terlalu cepat terjadi atau mungkin kecendrungan ini dipaksakan.
Hal ini terjadi karena masyarakat kita tidak memiliki kelihaian yang jeli tentang bagaimana menilai sebuah fenomena secara kongrit. Misalnya membaca tanda-tanda zaman dan bagaimana kemudian menanggapainya. Kita selalu (terutama yang muda-muda) diberi sesuatu yang hanya berbentuk kata-kata atau arahan-arahan yang sangat jauh dari kenyataan. Tak heran jika generasi harapan bangsa ini selalu saja menjadi tumbal pada wilayah pertanda “zaman telah berubah”.
Sehingga sebagai generasi yang selalu saja menjadi tumbal perubahan, kita sudah seharusnya mulai memodifikasi diri bahkan kelompok untuk lebih jeli lagi dalam pembacaan zaman dan perubahannya. Sehingga perubahan kedepan ini menjadi daya tawar yang kuat bagi kita sebagai genarasi harapan, bukan generasi tumbal. Gadis di ponsel tersebut dilihat sebagai sebuah bentuk pemberontakan zaman atas kungkungan orang tua yang selalu berpura-pura menerima modernisme dan mencampakkan kita dalam dalam situasi jeruji tradisional.
Kita sudah harus membaca zaman, tidak hanya tekstual dan kaku tapi lebih factual dan cermat. Sehingga tidak menjadi bahan cemooh generasi tua yang konserfatif dan kaku. Gadis ponsel sudah terlanjur menjadi korban cemooh orang-orang tua yang kaku dan munafik. Mari kita menjadi gerasi yang mengiakan tindakan gadis ponsel dengan cara giat membaca zaman dan melawan kecendrungan salah orang tua. Di wilayah korupsi, kolusi dan nepotisme.