Agustus 30, 2009

....Buka Puasa.

Seorang pejabat mengundang saya berbuka puasa.

Biasalah sebagai organisasi Mahasiswa tertua di negeri ini, kami memiliki bejibun alumni yang sudah sukses menjadi orang penting. Tradisi buka ini sebagai upaya menguatkan tali silaturahim bagi setiap anggota organisasi dan para alumninya.
Sebab yang ngundang buka puasa adalah orang penting, bisa dibayangkan bagaimana sajian buka puasanya.

Aku tiba di kediaman senior tersebut 10 menit jelang buka puasa. Ada majelis di dalam rumah saling membicarakan banyak hal. Tentang nostalgia para alumni, terkadang nyerempet ke politik bahkan ke kekuasaan. Maklumlah, orang penting tentu juga mengundang orang penting dalam berbuka puasa.
Di luar rumah di dirikan tenda di halaman yang luasnya sebesar lapangan fulsal. Di tata dengan rapih kursi plastic khas acara resmi diantara meja panjang yang dihiasi berbagai hidangan istimewa diatasnya.

Aku memilih untuk duduk di barisan paling belakang. 10 menit sebelum berbuka sudah merupakan waktu yang terlambat dalam sebuah majelis buka puasa orang penting. Seluruh kursi sudah terisi. Tinggal barisan belakang yang masih kosong. Banyak yang woro-wiri masuk keluar rumah untuk menjabat tanggan orang penting tersebut (yang merupakan alumni organsiasi saya) sekedar memberi tahu bahwa dirinya turut hadir dalam undangan buka puasa ini.

Lantunan dzikir mengantar seluruh jamaah yang hadir di buka puasa tersebut untuk menunggu bedug magrib. Tampak ustad beken yang sering memberikan ceramah di tv swasta sebagai penuntun dzikir. Nyaris semua orang penting negeri ini berkunjung di buka puasa ini.

Tak lama kemudian, bedug magrib pun berkumandang. Tanda buak puasa telah tiba. Ustad tv swasta tersebut menuntun para jamaah untuk membacakan doa buka puasa secara bersama-sama. Setelah itu, seluruh jamaah mengkerumuni meja makan di bagian luar dan di bagian dalam rumah.

Aku kebingungan … mengantri dan menunggu di belakang tumpukan jamaah di meja bagian luar. Tiga menit berlalu, tapi krumunan tersebut belum juga sepi. Lima menit berlalu, kerumunan itu masih bertumpuk di meja makan. Sampai akhirnya 10 menit berlalu.

Aku harus memutuskan keluar halaman besar ini, dan mencari warung terdekat untuk sekedar membeli segelas air miner agar bisa berbuka sesuai sunah rasul. Segerakanlah berbuka jika sudah tiba waktunya. Dalam hati sempat jengkel, tapi apalah daya, ini acara buka puasa orang penting. Maka setiap orang sekan berkepentingan menghadiri buka puasanya. Aku melangkah perlahan keluar pagar. Mencari warung terdekat. Sejauh mata memandang tidak ada warung terdekat. Maklumlah ini perumahan elit. Aku terus saja berjalan ke arah gerbang perumahan.
Layaknya perumahan elit, ada pos satpam di gerbang perumahan itu. Disapanya aku dengan sopan. Tapi pertanyaannya seakan mencurigai aku. “mau kemana pak ? “ aku memberi keterangan akan mencari warung terdekat untuk membeli air mineral. Di tunjukkanlah dengan cepat. “keluar gerbang, menuju kiri sekitar 5 ratus meter ada warung”

Aku mengikuti petunjuk pak satpam tersebut. Waktu sudah berlalu sekitar 20 menit dari bedug magrib.
Dalam perjalanku menuju warung, ada seorang ibu berpakaian lusuh menyapaku ramah.

“kemana bang?”
“ke warung bu”
“mau buka puasa ya?”
Aku mengangguk perlahan. Sembari was-was dan segera mencari uang receh di kantong celana depan. Mungkin ibu-ibu ini pengemis jalanan yang memanfaatkan ramadhan sebagai jualan, agar lebih dikasihani.
“sebentar bang … ke sini. Aku punya dua botol air mineral. Yang satu sudah aku minum tadi saat bedug magrib, saya masih ada satu lagi. Ini untuk abang aja. Berbukahlah”
Seperti disambar petir. Wajahku seperti ditekuk boldoser. Aku melangkah perlahan menuju ibu tersebut, mengambil se botol air mineral dari tangannya dan segera menegugnya.

“warung disebrang jalan pasti tutup saat berbuka”

Hatiku memiluh, kuraih tangan ibu tersebut dan kucium tangannya sembari berterima kasih. …

Ada makna yang luar biasa. Ibu itu memberi aku pelajaran. Beliau tidak sebanding dengan alumni ku yang sudah menjadi orang penting itu. Namun dia mambu memberi kebaikan dengan membagi menu buka puasanya kepada orang lain. Ini butuh keikhlasan.
Setelah sore itu, setiap ramadhan, aku selalu memikirkan banyak orang diluar ruang makan kita. Saat kita berbuka dengan bejibun hidangan enak, mereka hanya mampu menegug beberapa air mineral di luar sana. Apakah puasa kita bermakna ? dengan membiarkan banyak orang diluar sana, sementara kita menikmati masakan nikmat di dalam rumah.

... Sederhana saja



Orang menyebutnya cinta
Namun aku tak percaya
Sebuah sajak nyata
Tertulis dengan gerak dan teryata

Sederhana saja...
Kuingin hancurkan kaidah tertata
Menuntun tanpa kira dan rencana
Dan berakhir dipelaminan nyata
Setelah harapan tentang bahagia itu ada

Sederhana saja...
Kuingin meniadakan cerita
Ocehan tentang keharusan cinta
Sekedar menciptakan serasih purna
Mengais kisah yang dulu tiada

Sederhana saja ...
Tak usah berpikir tentang istana
Bergubuk dibawah langit semesta saja
Cukup kenyang bersama tumbuhan dan air hujan bumiNya
Bahagia itu ada dihati dan antara
Bukan berlian atau emas himalaya

Sederhana saja ...
Tak usah menyebutnya Cinta
Sebut saja itu rasa
Mengalir tanpa asah dan tanda
Menghadirkan gerak sebagai penanda
Tercipta langsung dariNya
Meski kita selalu bertanya

Jadikan cinta seperti ...
Kopi disore hari dan susu dipagi hari
Tatkala senyuman mengumbar bahagia
Setelah semalam kita bersama

Sederhana saja ...
Cinta itu dikau
Sayang ...
Bukan lisan dan kata
Tapi setitik rasa
Sedalam terasa
Mengisi segala yang selalu ada
Bersama hingga cerita tiada

Kerudung ...


Prahara hati terbungkus kerudung putih
Menyingkap senyum tanpa pamrih
Buka kerudungmu ya khumairah
Biar kulihat tunggumu yang letih

Tubuh perawanmu lembab beraromah embun
Basah dan merona tanpa sentuhan
Lekukannya menghentikan angan
Menghancurkan imanku dengan perlahan

Terlalu cepat kerudungmu terlepas
Meyakinkan milikku yang terhempas
Sudah kuucap ijab kabul tanpa ampas
Sudah, kau milikku tanpa seretas

Apa artinya kerudungmu kini
Ketika restu berhamburan sejak pagi
Malam menjadi keheningan legi
Menunggu kau segera merintih

Buang jauh kerudungmu
Tak akan kubiarkan mengekangmu
Akan kunodai jamuanmu
Dengan segala kelemahanku

Kerudungmu kini aku
Menjadi penghias senyumanmu
Menjadi ketenangan dimalammu
Dan menjadi matahari dipagimu

Malam ini akan kutanami harapan kita
Sedikit akan terasa sakit dipertama
Namun akan bermakna untuk semua
Kita kabarkan buahnya kelak untuk dunia
Dan hadirkan sebuah nama untuknya

Maaf ...
Kerudungmu aku lepaskan
Busanamu aku hempaskan
Kututup matamu dengan kesan
Dan ku sucikan kau perawan

Biarkan kerudungmu sejenak beristirahat
Sekedar untuk dua puluh menit
Menoreh cinta dengan cepat
Setelah itu kau gunakan lagi dengan tepat
Kerudungmu ...
Dimalam pertama

Sekedar Puisi ...


Tiada Yang Lain ...

Berdiri diantara persimpangan yang tak tertuju
Kau ada dan tak pernah tiada
Semakin ku dekat Kau semakin menuju
Aku tak pernah ada namun Kau tetap ada

Nikmatmu menutup segalanya
Aku terbuai dan terentah diantara setiap firmanMu
Kulupakan setiap tabir dalam tutur kitab suci
Kupikir Kau lupa bahwa aku lupa

Ternyata kau tetap menjadi Tuhanku
Diantara yang ada semuanya tiada
Menandakan selain Kamu
Aku akhirnya malu
Dan bersujud ....

Bukan untuk surgamu
Tapi untuk peniadaan yang lain
Selain Mu ... tak ada.

-----------
Sudah itu ...

Tak pernah pasti menjemput
Selalu mengikutiku bermpingan
Diselaput mata yang siap dijemput
Menuntun hidup dengan detik dan harapan

Kepastian yang selalu mengambang direlung kira-kira
Aku merasakan bisikannya dilubuk hati
Menakutiku dengan peringatan dan ancaman ada
Meski tak di ujung belati namun tetap menanti

Bila tiba saatnya, tak ada yang bisa menundanya
Sedetikpun dalam sesal
Semuanya terlambat dalam kepastian yang tak nyata
Berhenti dan tertutup apa pun semisal
Tak ada dosa atau pahala

Sendiri dan hening jika tiba saatnya
Bagai berdiri dalam pembaringan abadi
Menutup mata tanpa bersapa
Sedikit tanda namun berhamburan makna

Kematian.

Agustus 29, 2009

Samurai ...



Sejarah Samurai
Dalam catatan sejarah militer di Jepang, terdapat data-data yang menjelaskan bahwa pada zaman Nara (710 – 784), pasukan militer Jepang mengikuti model yang ada di Cina dengan memberlakukan wajib militer9 dan dibawah komando langsung Kaisar. Dalam peraturan yang diberlakukan tersebut setiap laki-laki dewasa baik dari kalangan petani maupun bangsawan, kecuali budak, diwajibkan untuk mengikuti dinas militer. Secara materi peraturan ini amat berat, karena para wakil tersebut atau kaum milter harus membekali diri secara materi sehingga banyak yang menyerah dan tidak mematuhi peraturan tersebut. Selain itu pula pada waktu itu kaum petani juga dibebani wajib pajak yang cukup berat sehingga mereka melarikan diri dari kewajiban ini. Pasukan yang kemudian terbentuk dari wajib militer tersebut dikenal dengan sakimori ( 防人 ) yang secara harfiah berarti “pembela”, namun pasukan ini tidak ada hubungannya dengan samurai yang ada pada zaman berikutnya.

Setelah tahun 794, ketika ibu kota dipindahkan dari Nara ke Heian (Kyoto), kaum bangsawan menikmati masa kemakmurannya selama 150 tahun dibawah pemerintahan kaisar. Tetapi, pemerintahan daerah yang dibentuk oleh pemerintah pusat justru menekan para penduduk yang mayoritas adalah petani. Pajak yang sangat berat menimbulkan pemberontakan di daerah-daerah, dan mengharuskan petani kecil untuk bergabung dengan tuan tanah yang memiliki pengaruh agar mendapatkan pemasukan yang lebih besar. Dikarenakan keadaan negara yang tidak aman, penjarahan terhadap tuan tanah pun terjadi baik di daerah dan di ibu kota yang memaksa para pemilik shoen (tanah milik pribadi) mempersenjatai keluarga dan para petaninya. Kondisi ini yang kemudian melahirkan kelas militer yang dikenal dengan samurai.

Kelompok toryo (panglima perang) dibawah pimpinan keluarga Taira dan Minamoto muncul sebagai pemenang di Jepang bagian Barat dan Timur, tetapi mereka saling memperebutkan kekuasaan. Pemerintah pusat, dalam hal ini keluarga Fujiwara, tidak mampu mengatasi polarisasi ini, yang mengakibatkan berakhirnya kekuasaan kaum bangsawan.

Kaisar Gonjo yang dikenal anti-Fujiwara, mengadakan perebutan kekuasaan dan memusatkan kekuasaan politiknya dari dalam o-tera yang dikenal dengan insei seiji. Kaisar Shirakawa,menggantikan kaisar Gonjo akhirnya menjadikan o-tera sebagai markas politiknya. Secara lihai, ia memanfaatkan o-tera sebagai fungsi keagamaan dan fungsi politik.

Tentara pengawal o-tera, souhei ( 僧兵 ) pun ia bentuk, termasuk memberi sumbangan tanah (shoen) pada o-tera. Lengkaplah sudah o-tera memenuhi syarat sebagai “negara” di dalam negara. Akibatnya, kelompok kaisar yang anti pemerintahan o-tera mengadakan perlawanan dengan memanfaatkan kelompok Taira dan Minamoto yang sedang bertikai.

Keterlibatan Taira dan Minamoto dalam pertikaian ini berlatar belakang pada kericuhan yang terjadi di istana menyangkut perebutan tahta, antara Fujiwara dan kaisar yang pro maupun kotra terhadap o-tera. Perang antara Minamoto, yang memihak o-tera melawan Taira, yang memihak istana, muncul dalam dua pertempuran besar yakni Perang Hogen (1156) dan Perang Heiji (1159).
Peperangan akhirnya dimenangkan oleh Taira yang menandai perubahan besar dalam struktur kekuasaan politik. Untuk pertama kalinya, kaum samurai muncul sebagai kekuatan politik di istana.

Taira pun mengangkat dirinya sebagai kuge ( 公家 - bangsawan kerajaan), sekaligus memperkokoh posisi samurai-nya. Sebagian besar keluarganya diberi jabatan penting dan dinobatkan sebagai bangsawan.

Keangkuhan keluarga Taira akhirnya melahirkan konspirasi politik tingkat tinggi antara keluarga Minamoto (yang mendapat dukungan dari kaum bangsawan) dengan kaisar Shirakawa, yang pada akhirnya mengantarkan keluarga Minamoto mendirikan pemerintahan militer pertama di Kamakura (Kamakura Bakufu; 1192 – 1333).

Ketika Minamoto Yoritomo wafat pada tahun 1199, kekuasaan diambil alih oleh keluarga Hojo yang merupakan pengikut Taira. Pada masa kepemimpinan keluarga Hojo (1199 -1336), ajaran Zen masuk dan berkembang di kalangan samurai. Para samurai mengekspresikan Zen sebagai falsafah dan tuntunan hidup mereka.

Pada tahun 1274, bangsa Mongol datang menyerang Jepang. Para samurai yang tidak terbiasa berperang secara berkelompok dengan susah payah dapat mengantisipasi serangan bangsa Mongol tersebut. Untuk mengantisipasi serangan bangsa Mongol yang kedua (tahun 1281), para samurai mendirikan tembok pertahanan di teluk Hakata (pantai pendaratan bangsa mongol) dan mengadopsi taktik serangan malam. Secara menyeluruh, taktik berperang para samurai tidak mampu memberikan kehancuran yang berarti bagi tentara Mongol, yang menggunakan taktik pengepungan besar-besaran, gerak cepat, dan penggunaan senjata baru (dengan menggunakan mesiu). Pada akhirnya, angin topanlah yang menghancurkan armada Mongol, dan mencegah bangsa Mongol untuk menduduki Jepang. Orang Jepang menyebut angin ini kamikaze (angin dewa).

Dua hal yang diperoleh dari penyerbuan bangsa Mongol adalah pentingnya mobilisasi pasukan infantri secara besar-besaran, dan kelemahan dari kavaleri busur panah dalam menghadapi penyerang. Sebagai akibatnya, lambat laun samurai menggantikan busur-panah dengan “pedang” sebagai senjata utama samurai. Pada awal abad ke-14, pedang dan tombak menjadi senjata utama di kalangan panglima perang.

Pada zaman Muromachi (1392 – 1573), diwarnai dengan terpecahnya istana Kyoto menjadi dua, yakni Istana Utara di Kyoto dan Istana Selatan di Nara. Selama 60 tahun terjadi perselisihan sengit antara Istana Utara melawan Istana Selatan (nambokuchō tairitsu).

Pertentangan ini memberikan dampak terhadap semakin kuatnya posisi kaum petani dan tuan tanah daerah (shugo daimyō) dan semakin lemahnya shogun Ashikaga di pemerintahan pusat. Pada masa ini, Ashikaga tidak dapat mengontrol para daimyō daerah. Mereka saling memperkuat posisi dan kekuasaannya di wilayah masing-masing.

Setiap Han13 seolah terikat dalam sebuah negara-negara kecil yang saling mengancam. Kondisi ini melahirkan krisis panjang dalam bentuk perang antar tuan tanah daerah atau sengoku jidai (1568 – 1600). Tetapi krisis panjang ini sesungguhnya merupakan penyaringan atau kristalisasi tokoh pemersatu nasional, yakni tokoh yang mampu menundukkan tuan-tuan tanah daerah, sekaligus menyatukan Jepang sebagai “negara nasional” di bawah satu pemerintahan pusat yang kuat. Tokoh tersebut adalah Jenderal Oda Nobunaga dan Toyotomi Hideyoshi.

Oda Nobunaga, seorang keturunan daimyo dari wilayah Owari dan seorang ahli strategi militer, mulai menghancurkan musuh-musuhnya dengan cara menguasai wilayah Kinai, yaitu Osaka sebagai pusat perniagaan, Kobe sebagai pintu gerbang perdagangan dengan negara luar, Nara yang merupakan “lumbung padi”, dan Kyoto yang merupakan pusat pemerintahan Bakufu Muromachi dan istana kaisar.

Strategi terpenting yang dijalankannya adalah Oda Nobunaga dengan melibatkan agama untuk mencapai ambisinya. Pedagang portugis yang membawa agama Kristen, diberi keleluasaan untuk menyebarkan agama itu di seluruh Jepang. Tujuan strategis Oda dalam hal ini adalah agar ia secara leluasa dapat memperoleh senjata api yang diperjualbelikan dalam kapal-kapal dagang Portugis, sekaligus memonopoli perdagangan dengan pihak asing. Dengan memiliki senjata api (yang paling canggih pada masa itu), Oda akan dapat menundukkan musuh-musuhnya lebih cepat dan mempertahankan wilayah yang telah dikuasainya serta membentuk pemerintahan pusat yang kokoh.

Oda Nobubunaga membangun benteng Azuchi Momoyama pada tahun 1573 setelah berhasil menjatuhkan Bakufu Muromachi. Strategi Oda dengan melindungi agama Kristen mendatangkan sakit hati bagi pemeluk agama Budha. Pada akhirnya, ia dibunuh oleh pengikutnya sendiri, Akechi Mitsuhide, seorang penganut agama Budha yang fanatik, pada tahun 1582 di Honnoji, sebelum ia berhasil menyatukan seluruh Jepang.

Toyotomi Hideyoshi, yang merupakan pengikut setia Oda, melanjutkan penyatuan Jepang, dan tugasnya ini dituntaskan pada tahun 1590 dengan menaklukkan keluarga Hojo di Odawara dan keluarga Shimaru di Kyushu tiga tahun sebelumnya.

Terdapat dua peraturan penting yang dikeluarkan Toyotomi : taiko kenchi (peraturan kepemilikan tanah) dan katana garirei (peraturan perlucutan pedang) bagi para petani. Kedua peraturan ini secara strategis bermaksud “mengontrol” kekayaan para tuan tanah dan mengontrol para petani agar tidak melakukan perlawanan atau pemberontakan bersenjata.

Keberhasilan Toyotomi menaklukkan seluruh tuan tanah mendatangkan masalah tersendiri. Semangat menang perang dengan energi pasukan yang tidak tersalurkan mendatangkan ancaman internal yang menjurus kepada disintegrasi bagi keluarga militer yang tidak puas atas kemenangan Toyotomi. Dalam hal inilah Toyotomi menyalurkan kekuatan dahsyat tersebut untuk menyerang Korea pada tahun 1592 dan 1597. Sayang serangan ini gagal dan Toyotomi wafat pada tahun 1598, menandakan awal kehancuran bakufu Muromachi.

Kecenderungan terdapat perilaku bawahan terhadap atasan yang dikenal dengan istilah gekokujō ini telah muncul tatkala Toyotomi menyerang Korea. Ketika itu, Tokugawa Ieyasu mulai memperkuat posisinya di Jepang bagian timur, khususnya di Edo (Tokyo). Kemelut ini menyulut perang besar antara kelompok-kelompok daimyo yang memihak Toyotomi melawan daimyo yang memihak Tokugawa di medan perang Sekigahara pada tahun 1600. Kemenangan berada di pihak Tokugawa di susul dengan didirikannya bakufu Edo pada tahun 1603.

Samurai di Jaman Edo
Samurai di zaman Edo menjalankan kewajiban melayani tuan tanah feodal masing-masing dengan dua cara. Pertama, menjalankan tugas keprajuritan pada masa damai, yakni menjaga benteng daimyō, mengawal daimyō ketika ia pergi ke Edo dan pulang dari Edo16, dan menyediakan pasukan yang dapat digunakan daimyo untuk menjaga tanahnya.

Namun, setelah Tokugawa berhasil mewujudkan ketertiban di Jepang pada abad ke-17, para samurai ini kebanyakan menjalankan tugas administrasi, dalam hal ini adalah administrasi keuangan seperti menghimpun pendapatan dalam bentuk beras atau uang tunai untuk membayar tunjangan, merawat rumah resmi di Edo, dan membayar biaya perjalanan ke Edo setiap tahunnya.

Karena para samurai tidak dapat lagi diandalkan untuk bertempur, shogun dan daimyō tidak ingin menghilangkan nilai kesetiaan dan keberanian samurai, tetapi perkelahian dan balas dendam turun temurun, sering terjadi dan merupakanbagian dari kehidupan samurai yang tidak sesuai dalam masyarakat aman dan damai yang sedang mereka bangun. Bakufu kemudian menindak tegas pelaku perkelahian dan melarang balas dendam. Untuk mendorong agar para samurai mau menerima perubahan, maka disediakan imbalan. Pada abad ke-18, pejabat mendapat tunjangan tambahan untuk menambah gaji. Pekerjaan yang baik menjadi salah satu pertimbangan untuk naik pangkat, yang membuka kemungkinan untuk naik jabatan.

Selain itu pendidikan moral, etika, dan pengetahuan umum mulai dikenalkan. Sampai saat itu sebagian besar samurai terutama samurai berpangkat tinggi mendapat pendidikan secara individual. Pendidikan tersebut antara lain pengetahuan mengenai etika selain keahlian menggunakan senjata, berikut pengetahuan membaca dan menulis. Peran birokrasi dalam kehidupan telah menjadi norma, para atasan menginginkan nilai-nilai lebih dari seorang samurai. Seperti kaum bangsawan di zaman Nara dan Heian, mereka harus memiliki sikap moral yang “benar” jika mereka ingin mendapat peranan dalam pemerintahan. Terutama harus memahami ajaran-ajaran klasik Konfusius, oleh karena itu bakufu dan para daimyō mulai mendirikan tempat-tempat pendidikan dimana hal-hal tersebut dapat dipelajari. Terdapat lima belas tempat-tempat pendidikan yang didirikan pada tahun 1700.

Begitulah Malaysia dan nasionalisme kita.

Begitulah Malaysia. Setelah berpuluh tahun lalu membuat Indonesia merajuk dan keluar dari PBB. Sekarang melakukan klaim terhadap beberapa tarian, yang belakangan membuat geger hampir seluruh masyarakat Indonesia. Ini bukan kali pertama. Sebelum tari pendet. Ada beberapa lagu dan juga ornament kebudayaan yang diklaim Malaysia. Mereka beralasan bahwa budaya tersebut berakar dari kebudayan melayu yang dahulu kala belum dibatasi oleh administrasi kenegaraan. Melayu sekedar spirit sukuisme dan tradisi saja. Akar ini yang membuat Malaysia melakukan klaim. Ada tradisi hindunisme yang mengakar di sejarah Negara-bangsa ini. Sehingga beberapa ornament kebudayaan hampir mirip bahkan sulit memang di bedakan antara Negara Indonesia dan Negara Malaysia.

Malaysia tidak sepenuhnya salah dalam hal klaim dengan argumentasi seperti itu. Kita ranah serumpun yang memiliki latar kebudayaan yang sama. Hampir tak ada bedanya. Bicara kebudayaan memang sulit ditegaskan dibawah spirit kenegaraan. Kebudayaan berakar dari nilai leluhur yang menspirit tradisi dan nilai-nilai. William H. Haviland berisalah bahwa Kebudayaan terkait seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di tarima oleh semua masyarakat. Landasan ini sulit membatasi produk kebudayaan sebagai klaim kreativitas segolongan orang saja. Ini kerja banyak orang, melintasi batasan administrative formal dan sulit ditakar menggunakan klaim.

Persoalan yang hadir memang, lebih disebabkan oleh semerbak komersialisasi kebudayaan yang di canangkan Kapitalisme sekitar satu abad terakhir. Terlebih lagi ketika adanya Undang-undang hak paten. Sekonyong-konyong setiap budaya harus punya hak patennya sendiri-sendiri. Gunanya memang lebih pada memenuhi halaman depan majalah iklan pariwisata dunia. Jika sekedar spirit nasionalisme, buat apa kita cape-cape berteriak tentang ke-brengsekan Malaysia yang mengklaim ? wong kita juga banyak menggunakan ornament kebudayaan orang yang skrang mentradisi dan blakangan, sebagian besar dari kita, sudah merasa memilikinya. Misalnya, Kuba mesjid ala mesir, jubah putih panjang ala Arabic, baju koko ala cina dan beduk mesjid sebagai tanda akan adzan ala cina. Masalahnya memang, kita tidak meletakkannya sebagai iklan pariwisata di halaman depan majalah pariwisata. Tapi bukankah itu ornament kebudayaan yang juga punya nilai ditengah masyarakat ?

Tidak sepenuhnya salah, bukan berarti Malaysia sudah spenuhnya benar. Dengan mengiklankan atau melakukan klaim terhadap beberapa produk kebudayaan yang sudah menjadi produk unggulan Indonesia, mereka melakukan pencaplokan brand agar dengan mudah mengalahkan lawan bisnisnya dengan cepat. Dalam logika pasar ini sangat mlanggar etika. Dengan cara menggampangkan langkah bisnis. Mengambil produk-produk jadi milik tetangga, untuk dipromosikan agar bisa mendapatkan keuntungan dari beberapa produk unggulan tersebut. Namun memang langkah ini dalam bisnis sulit di kenakan sangsi formal. Yang bisa dilakukan antar kopetitor adalah meningkatkan kualitas produk masing-masing agar bisa bersaing dengan sehat dipasaran.

Maka menjadi salah kaprah-lah kita jika klaim Malaysia atas beberapa ornament kebudayaan, kita tangapi sebagai persoalan ideologis. Atau penghinaan terhadap Negara kesatuan Republik yang kita cintai ini. Itu sekedar upaya komersialisasi pariwisata yang sudah kita lakukan jauh setelah Negara ini merdeka. Sudah lama tahapan ini kita lakukan. Yang sekarang baru dilakuakn oleh Negara serumpun kita Malaysia. Toh juga Negara serumpun ini, tidak cukup banyak kekuatan, untuk bisa merebut pasar pariwisata kita. Jika, kita mau meningkatkan segala kualitas produk kebudayaan yang selama ini kita miliki.

Mari kita sibukkan diri ini dengan meningkatkan kualitas produk kudayaan kita, agar lebih disukai secara Internasional dan itu bisa mendatangkan pendapatan yang lebih. Selain nilai komersialisasi pelestarian kebudayaan juga menghadirkan karakteristik bangsa. Buat apa kita maki-maki Malaysia yang “katanya” mengklaim kebudayaan kita, sedangkan kita sendiri tidak bisa mengilhami karakteristik budaya kita sendiri. Buktinya, anasir asing masih menyelinap di sendi-sendi kebijakan dalam negeri kita.

Berhentilah memaki kreatifitas orang lain. Hingga kita tidak diklaim Negara reaktif revolusioner … sebaiknya kita menciptakan kretivitas baru dengan spirit kebudayaan yang ada dan senantiasa mengagungkan spirit nasionalisme subtansial … tidak reaktif, heroistik, euforia dan sediktl memalukan. Jadilah bangsa yang besar yang juga berkarakter besar.