SBY memang sulit di bendung. Selain seorang yang memang punya kapasitas sebagai seorang pemimpin. SBY juga pintar memainkan emosi konsumen untuk bisa membeli produk yang di tawarkan. Gaya bicara, gaya pidato, gaya berkomunikasi dan menyampaikan pendapat. SBY bisa mengimbangi dua rivalnya pada level yang sangat jauh. Anak berumur delapan tahun pun akan mengatakan dengan kencang, SBY presidenku. JK apalagi Mega, tak punya kemampuan ini. Sama seperti Obama yang menghipnotis sebagian besar rakyat Amerika dengan kualitas pidato dan performencnya. Dan akhirnya dia memenangkan pemilu Amerika kemarin.
Selain itu, SBY memiliki tim sukses yang sudah bekerja lama. Professional dan telaten. Kemenangan SBY secara politik adalah wajar. Jika pun mungkin SBY curang dalam pemilu kemarin, itu tidak memberi kontribusi besar dalam kemenangannya. Lagian terlalu naïf jika kita bicara kecurangan yang tersistematis dalam pemilu presiden kemarin. Memang bukan berarti tidak ada. Jika pun ada, mari kita yakini itu kelalayaian penerapan manajemen pemilu yang memang menjadi problem utama pemilu kemarin. Mulai dari pileg sampai pilpres.
Boediono. Kita tau bersama, musuh SBY pun sering mengatakan, dipasangkan dengan sandal jepit pun SBY menang. Itu yang membuat psikologi setiap lawan SBY tidak memikirkan wakilnya. Meski ada upaya menghantam SBY lewat wakil yang di pilihnya, namun sayang, mereka lupa, Boediono orang belakang layar yang tidak laku jika di hantam. Tak ada yang menarik dari wakil SBY ini untuk dijadikan komoditi hitam dalam politik.
Secara objektif juga mari kita katakan, kemenangan SBY adalah sebuah tanda pemilih di Indonesia sudah mulai rational, sekali lagi “mulai” rational, meski belum sepenuhnya bisa diharapkan. Mereka tidak melihat SBY dalam koridor agamanya, asalnya, dan warna kulitnya. SBY dan boediono adalah kalangan menengah yang hadir dari pergulatan yang sangat panjang. Dua orang ini bukan anak tokoh, bukan darah biru dan juga meski mereka berdua anak jawa asli, mereka menang di berbagai daerah yang sejarah daerahnya sangat jauh dari kerajaan-kejaan yang ada di jawa sana.
Dari kualitas tim sukses kita juga harus akui, JK dan Mega tidak memiliki tim sehebat SBY. Kita bisa ingat betapa Tim SBY yang di tahun 2004 membawa orang ini menuju istana, meski saat itu mereka adalah orang dari kalangan luar istana.
Secara sederhana saya ingin mengajak kita semua untuk segera menguatkan hati dan mengatakan bahwa SBY memang menang dengan Pemilu presiden yang jauh dari kesempurnaan. Dalam pertarungan politik SBY menang, meski memang secara system pemilu kita sangat amburadul. Marilah jujur mengatakan bahwa JK dan Mega bukan tandinan SBY di ranah politik.
Apa yang harus kita lakukan dengan kondisi ini ?
Stimulus permasalahannya ada di ketidak becusan penyelegaraan pemilu. Hal ini tak bisa kita biarkan. Jalur hukum harus tetap dilakukan jika, terjadi kecurangan berdasarkan koridor hukum. Hal ini perlu di tekankan karena belakangan wacana kecurangan, mau tidak mau harus kita akui sudah jauh dari ”bebas nilai politik”. Kecurangan harus kita pisahkan dari kekecewaan politik atas sebuah kekalahan. Sehingga kita bisa memilah dengan objektif. Kecurangan sebagai celah klemahan system pemilu. Dan kecurangan karena merasa dicurangi.
Meski memang JK dan Mega secara hukum sah menggugat proses pemilu dalam koridor hukum. Mereka peserta yang memiliki hak yang sama. Namun kecurangan jangan digeserkan sesederhana itu. Kecurangan harus lebih jauh digeser pada level mengkritisi kekuarangan pemilu secara keseluruhan sebagai referensi konstruksi system pemilu ke depan, sekaligus menakar kapabilitas penyelenggara pemilu (KPU). Celah ini yang harus serius kita pikirkan untuk menanggapi ketidak becusan proses penyelenggaraan pemilu presiden baru-baru ini. Namun jangan seakan kekalahan disebabkan karena sebuah ketidak becusan. Jika pun seandainya pemilu diulang, saya sangsi jika JK atau pun Mega bisa mengimbangi SBY. Ini seuah kenyataan politik.
Kita tau bersama. Penerapan system pemilu yang mewarnai proses pemilu 2009 ini jauh dari kata sempurna. Jika ini di tolelir dengan kata-kata “sudah ada upaya, untuk mendekati sempurna” atau dengan kata-kata “pemilu berjalan damai” ini adalah sebuah pembodohan sistemik mengenai sebuah proses demokratisasi yang baru saja akan tumbuh. Tidak bisa kita berpaling wajah dan mengatakan. Sudahlah pemilu sudah berakhir. Sekarang mari kita berupaya untuk bersama kembali. Pemilu ini bukan urusan tiga kandidat itu. Ini soal proses demokrasi yang membawa nasib bejibun rakyat yang ada di Negara ini. Jika sudah ada upaya untuk menyelesaikan urusan politik antara kandidat capres kemarin, itu bukan berarti kita melupakan system pemilu yang sangat carut marut kemarin.
Jika kita lihat secara seksama. Pemilu yang kita banggakan tersebut sangat lemah pada manajemen pengelolaan pemilu. Itu adalah kontriusi dari lemahnya parlemen kita dalam menyusun undang-undang paket politik kemarin. Selain itu, ada kapasitas anggota KPU secara keseluruhan yang memang dibawah standar. Coba kita lihat personil KPU pusat? Adakah yang punya kapasitas meyakinkan sebagai orang-orang yang bisa dipercaya bisa membuat pemilu lebih baik lagi dari 2004 ? tidak ada. Mulai dari ketua-nya sampai seluruh personil KPU-nya.
Inilah sebuah konsukwensi dari lompatan-lompatan yang kita alami dalam merancang sebuah system. Undang-undangnya memble, penyelengaranya tidak becus, ya pemilu jadi tak karuan. Maka hasilnya juga tinggal menggeleng kepala dan mengelus dada. Maka mari kita menggeleng kepala, sembari mengelus dada dan mendengar pidato presiden terpilih versi pemilu kali ini. Yang ungul secara politik, tapi lemah secara sistemik.
Yang tidak jadi presiden, menurut saya pribadi, silahkan traning lagi tim suksesnya. Agar bisa lebih maju dalam berpolitik. Karena, seandainya menang, saya tidak yakin kandidat yang lain ramai bicara kecurangan.
Maka mari kritis melihat politisasi kecurangan sembari menagih janji presiden versi pemilu ece-ece. Dengan niat yang kukuh untuk bisa memperbaiki pemilu presiden di 2014 mendatang. Semoga saja.
Juli 13, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
tulisan yang menarik..bagus :) napa nda magang jadi wartawan..:)
udah taw yang mana sayah??
^^
salam blogger
apdet apdet blogg
Posting Komentar