Agustus 30, 2009

....Buka Puasa.

Seorang pejabat mengundang saya berbuka puasa.

Biasalah sebagai organisasi Mahasiswa tertua di negeri ini, kami memiliki bejibun alumni yang sudah sukses menjadi orang penting. Tradisi buka ini sebagai upaya menguatkan tali silaturahim bagi setiap anggota organisasi dan para alumninya.
Sebab yang ngundang buka puasa adalah orang penting, bisa dibayangkan bagaimana sajian buka puasanya.

Aku tiba di kediaman senior tersebut 10 menit jelang buka puasa. Ada majelis di dalam rumah saling membicarakan banyak hal. Tentang nostalgia para alumni, terkadang nyerempet ke politik bahkan ke kekuasaan. Maklumlah, orang penting tentu juga mengundang orang penting dalam berbuka puasa.
Di luar rumah di dirikan tenda di halaman yang luasnya sebesar lapangan fulsal. Di tata dengan rapih kursi plastic khas acara resmi diantara meja panjang yang dihiasi berbagai hidangan istimewa diatasnya.

Aku memilih untuk duduk di barisan paling belakang. 10 menit sebelum berbuka sudah merupakan waktu yang terlambat dalam sebuah majelis buka puasa orang penting. Seluruh kursi sudah terisi. Tinggal barisan belakang yang masih kosong. Banyak yang woro-wiri masuk keluar rumah untuk menjabat tanggan orang penting tersebut (yang merupakan alumni organsiasi saya) sekedar memberi tahu bahwa dirinya turut hadir dalam undangan buka puasa ini.

Lantunan dzikir mengantar seluruh jamaah yang hadir di buka puasa tersebut untuk menunggu bedug magrib. Tampak ustad beken yang sering memberikan ceramah di tv swasta sebagai penuntun dzikir. Nyaris semua orang penting negeri ini berkunjung di buka puasa ini.

Tak lama kemudian, bedug magrib pun berkumandang. Tanda buak puasa telah tiba. Ustad tv swasta tersebut menuntun para jamaah untuk membacakan doa buka puasa secara bersama-sama. Setelah itu, seluruh jamaah mengkerumuni meja makan di bagian luar dan di bagian dalam rumah.

Aku kebingungan … mengantri dan menunggu di belakang tumpukan jamaah di meja bagian luar. Tiga menit berlalu, tapi krumunan tersebut belum juga sepi. Lima menit berlalu, kerumunan itu masih bertumpuk di meja makan. Sampai akhirnya 10 menit berlalu.

Aku harus memutuskan keluar halaman besar ini, dan mencari warung terdekat untuk sekedar membeli segelas air miner agar bisa berbuka sesuai sunah rasul. Segerakanlah berbuka jika sudah tiba waktunya. Dalam hati sempat jengkel, tapi apalah daya, ini acara buka puasa orang penting. Maka setiap orang sekan berkepentingan menghadiri buka puasanya. Aku melangkah perlahan keluar pagar. Mencari warung terdekat. Sejauh mata memandang tidak ada warung terdekat. Maklumlah ini perumahan elit. Aku terus saja berjalan ke arah gerbang perumahan.
Layaknya perumahan elit, ada pos satpam di gerbang perumahan itu. Disapanya aku dengan sopan. Tapi pertanyaannya seakan mencurigai aku. “mau kemana pak ? “ aku memberi keterangan akan mencari warung terdekat untuk membeli air mineral. Di tunjukkanlah dengan cepat. “keluar gerbang, menuju kiri sekitar 5 ratus meter ada warung”

Aku mengikuti petunjuk pak satpam tersebut. Waktu sudah berlalu sekitar 20 menit dari bedug magrib.
Dalam perjalanku menuju warung, ada seorang ibu berpakaian lusuh menyapaku ramah.

“kemana bang?”
“ke warung bu”
“mau buka puasa ya?”
Aku mengangguk perlahan. Sembari was-was dan segera mencari uang receh di kantong celana depan. Mungkin ibu-ibu ini pengemis jalanan yang memanfaatkan ramadhan sebagai jualan, agar lebih dikasihani.
“sebentar bang … ke sini. Aku punya dua botol air mineral. Yang satu sudah aku minum tadi saat bedug magrib, saya masih ada satu lagi. Ini untuk abang aja. Berbukahlah”
Seperti disambar petir. Wajahku seperti ditekuk boldoser. Aku melangkah perlahan menuju ibu tersebut, mengambil se botol air mineral dari tangannya dan segera menegugnya.

“warung disebrang jalan pasti tutup saat berbuka”

Hatiku memiluh, kuraih tangan ibu tersebut dan kucium tangannya sembari berterima kasih. …

Ada makna yang luar biasa. Ibu itu memberi aku pelajaran. Beliau tidak sebanding dengan alumni ku yang sudah menjadi orang penting itu. Namun dia mambu memberi kebaikan dengan membagi menu buka puasanya kepada orang lain. Ini butuh keikhlasan.
Setelah sore itu, setiap ramadhan, aku selalu memikirkan banyak orang diluar ruang makan kita. Saat kita berbuka dengan bejibun hidangan enak, mereka hanya mampu menegug beberapa air mineral di luar sana. Apakah puasa kita bermakna ? dengan membiarkan banyak orang diluar sana, sementara kita menikmati masakan nikmat di dalam rumah.

2 komentar:

Ranny mengatakan...

Pesan moral : kalo buka puasa di rumah pejabat kudu bawa air mineral :D hehehe

Rully Amri mengatakan...

hehehe ranny ...mulai lagi ...