Nana…nana…feodalisme warisan kompeni……Bener ga bener yang paling tua sudah pasti benar, suruh menyuruh larang melarang dia, dia yang paling benar.
Sebuah lirik SLANK yang sangat apik meneriakkan pembokaran hegemoni kaum tua terhadap orang muda. Pembongkaran ini berdasarkan pada sebuah pemberontakan (kalau boleh dikatakan begitu) terhadap apa-apa yang mengekang bahkan terasa seperti menindas. Pemberontakan ini juga dengan serta merta meminta bahkan mendesak sebuah kemerdekaan hakiki. Untuk sebuah tindakan, untuk sebuah pilihan, rencana, tingkah laku, sikap, langkah, pola pikir bahkan perasaan.
Kebebasan yang menggugat tradisi yang sudah membeku di seantero planet Indonesia. Tradisi cium tangan, mengucapkan salam, manggut-manggut, ketakutan terhadap teriakan, bahkan ancaman-ancaman lainnya. Gugatan orang muda terhadap tradisi mapan orang tua yang sudah mulai basi dan usang. Gugatan tradisi mistik, magis, menuju pada tradisi kritis dan rasional.
Gugatan yang diteriakan seakan mengingatkan kembali kepada orang tua yang konservatif, bahwa peradaban di bentuk dari buah tangan orang muda. Pengingatan kembali bahwa sejarah harus tetap berjalan kedepan dan berganti wajah sesuai dengan wadah yang ditempatinya. Teriakan yang menunjukan bahwa setiap manusia punya hak yang sama dalam kebebasan tidak tua maupun muda. Kesadaran ketertindasan ini lahir dari sebuah kelelahan yang panjang terhadap makian orang tua yang sulit mencapai imaji liar, dan emosional membara orang muda.
Tapi apakah benar? kebebasan yang terdengar lahir dari sebuah refleksi yang dalam, atau sekedar hasil komodifikasi. Kebebasan yang lahir dari sebuah kesadaran tidak hanya berbentuk semu, tampilan-tampilan luarnya saja, ikut-ikutan bahkan trend. Ternyata tanpa di sadari niatan suci di atas tidak di sertai oleh perenungan yang mendalam dari para pelakunya. Lihat saja hasilnya. Orang tua tetap berkuasa, menindas bahkan menghegemoni. Benar, tidak?. Hal ini ril, meracuni sendi-sendi kehidupan kita. Apa yang bisa dilakukan orang muda saat ini dengan pembongkaran tradisi itu. Jawabannya “semu”. Orang muda tetap cengeng, tidak bertenaga, bodoh, bahkan usang dimakan tradisi konservatif. Kebebasan yang diminta hanya menginterupsi nilai-nilai kebenaran lain, tanpa menciptakan kebenaran-kebenaran.
Orang muda dengan keterbatasan kemampuannya tertatih, dan selalu dikalahkan dengan mudahnya oleh orang tua. Lihat saja. Hasil kekalahan itu. Orang muda selalu acuh tau dengan segala sikap orang-orang tua yang nyeleneh. Misalnya sikap kekanak-kanakan orang tua dalam merebut kekuasaan, kebijakan orang tua di pemerintahan yang timpang, sikap berbohong orang tua di legislatif, sikap korup orang tua yang merugikan rakyat miskin, dan masih banyak ketimpangan orang tua lain yang diacuh orang muda, atau sengaja dipaksa dan dibuat acuh oleh orang tua. Selalu saja orang muda terjebak di hutang budi kepada orang tua, rasa sayang kepada orang tua yang tidak substantif, ketakutan untuk menjadi durhaka, dan banyak lagi.
Penulis bukan mengajak untuk menjadi durhaka dalam menyempitan makna yang dangkal. Kita semua sadar bahwa membesarkan anak bukanlah sebuah hutang budi tapi kewajiban, dan yang paling jelas anak bukanlah sebuah objek eksploitasi arogansi orang tua, untuk mencapai targetan-targetan tertentu. Sikap hormat bukan hanya ditunjukan dengan mangut-mangut, selalu mengiakan, meski itu adalah suatu hal yang salah. Sikap hormat harus ditunjukan dengat menggugat kesalahan menjadi kebenaran yang mutlak, tanpa ditawar-tawar.
Kemenangan orang tua yang sudah terjadi seabad terakhir, menimbulkan kedangkalan berfikir orang muda. Lihat saja orang tua sekarang yang tadinya muda, juga sama dangkalnya. Nalar yang mengatakan bersekolah untuk mendapat status sosial dan bukan fungsi pembebasan kemanusiaan apakah hal yang benar?, tidak. Apakah membiarkan sebuah sistem yang menindas berjalan dengan asiknya hingga menimbulkan kekacauan adalah hal yang benar?, tidak. Kekalahan inilah salah satu factor pencipta generasi “I Don’t Care” orang muda.
Orang muda hanya bisa manggut, diam, cengeng, dan tidak mandiri berbuat sesuatu. Akhirnya generasi milenium Indonesia adalah generasi yang seperti di gambarkan dalam bait lagu pramuka, Di sini senang,,,disana senang,,,dimana-mana hatiku senang,,,,!.(Budianto sambaz,Kompas). Akibatnya BBM naik,,,kita senang, Pemerintahan korup,,,kita senang, banyak orang tertindas,,,,,kita senang. Sex bebas,,,kita senang. Aborsi merajalela,,,kita senang. Semua-muanya kita senang.
Apakah kita akan membenarkan pepatah yang mengatakan, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya” berarti, orang tua korup orang muda juga korup, orang tua berbohong orang muda juga harus bohong, dan orang tua nyeleneh dan diam dengan keburukan dan kesalahan, orang muda juga harus diam,mangut,bego, tolol, dan……!. Apakah seluruh buah akan jatuh tepat dibawah pohonnya. Tentu tidak Buah bisa bergelinding menjauhi pohonnya, dipetik dan di bawa pergi, jatuh ke sungai dan dibawa air, jatuh di jurang yang sangat tinggi dan lain-lainnya. Marilah para buah yang segar (orang muda) latih diri kita untuk selalu cerdas menilai orang tua. Agar kita tidak seperti lirik SLANK; Anak mami,,,,,berlindung di ketiaknya mami!!!!!.
Juli 09, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar