Juli 09, 2008

‘Pengalaman Dengan Tambio’

Mungkin sebagian kalangan menilai pengalaman bersama wanita tuna susila atau sering di sebut pelacur alias perek, merupakan tabu yang memalukan sekaligus mengasikan. Untuk di bagi bersama khalayak ramai, mungkin masih menjadi hal yang tidak etis bagi sebagian besar masyarakat kita. Apalagi pengalaman tersebut dilakukan oleh seorang laki-laki yang sudah berkeluarga dan punya jabatan atau status tertentu di tengah-tengah masyarakat. Kalau pun dibagi, mungkin kepada orang-orang terdekat dan sama-sama “petualang” sehingga tidak mengakibatkan pembusukan karakter apalagi reputasi. Apalagi masyarakat kita masyarakat yang masih sangat risih dengan cerita-cerita di balik aktivitas si kupu-kupu malam tersebut. Maklumlah negri ini, negeri yang tumbuh dari kesepakatan-kesepakan mistis animisme nenek moyang mereka dan akhirnya di interupsi dengan konsep-konsep penyebagaran agama yang masih terjebak pada masalah-masalah simbolik. Ritual-ritual keagamaan yang masih sangat simbolik tersebut, menjadi semacam landasan kebudayaan di negeri ini, sehingga menjadikan sebagian besar masyarakatnya lebih menjaga imej sebagai orang-orang suci dengan cara menutupi kesalahan-kesalahan bersama, dibanding membeberkan kesalahan untuk kemudian memperbaiki.
Disatu sisi yang lain memang pengalaman pribadi tidak begitu penting pula untuk di bagikan kepada khalayak. Apalagi pengalaman tersebut sangat bersifat pribadi dan tertutup. Namun akan menjadi penting kalau pengalaman tersebut biasa menjadi referensi bersama untuk keberlangsungan bermasyarakat kedepan. Jika pengalaman semacam ini kiranya wajib hukumnya jika di ketahui public sebagai bahan pertimbangan bersama untuk keberlangsungan kehidupan bersama pula. Meski mungkin pengalaman tersebut sungguh memalukan.
Dalam fream modernitas hal ini disebut dengan penelitian ilmiah. Namun perdebatan teoritis tentang ilmu pengetahuan yang bebas nilai juga terkadang menginterupsi subjektifitas para peneliti, untuk mengatakan bahwa “ini pengalaman menakjubkan yang jika di ketahui bersama akan sangat bermanfaat” sehingga kadang-kadang hasil-hasil penelitian social lebih bersifat positivistik dan sama sekali menjauhkan realitas pada tempatnya. Kita harus benar-benar sadar bahwa kita hidup pada jaman ketika matahari rasionalitas sudah terbit berpuluh tahun lamanya. Muamar Emka dengan lugas dan terbuka menceritakan pengalaman-pengalamannya sebagi seorang wartawan media pria, bersama riuhnya kehidupan malam di Jakarta. Beberapa penulis yang lain juga sudah cukup menceritakan betapa pengalaman mereka begitu fantastic untuk di simak, maski sekali lagi penalaman-pengalan tersebut sangat menggelikan.
Fenomena di atas mendorong penulis untuk mencoba berbagi cerita dengan public atas pengalaman yang sangat pribadi ini. Menceritakan pengalaman bersama pelacur bukan berarti melupakan fenomena lain tentang keributan PKL dan Pamongpraja, pemborosan yang dilakukan anggota lagislatif versi BPK, atau meninggalkan persoalan bahwa kekayaan negeri ini sedang di eksploitasi oleh perusahaan-perusahaan tambang asing. Pengalaman dengan pelacur, biasa menjadi wahana yang berbeda untuk mengganti paradigma kita, sebagai masyarakat kota yang sebentar lagi menyambut pencitraan lanskap kota sebagai sebuah kota persinggahan (pariwisata) dunia 2010. Toh seluruh pengalaman yang penulis rasakan tidak melulu bagian-bagian hot seperti yang di beberkan Emka dalam sebuah bukunya.
Pengalaman ini di awali ketika saya menjajakan kunjungan ke sebuah tempat “mesum” (bahasa TV) akibat referensi mengasikkan yang diberikan kawan dekat. Sebagai seorang aktivis dan pejabat salah satu organisasi mahasiswa Islam tertua di negeri ini, sikap ini sungguh meresahkan diri. Selain alasan yang apologis tersebut, saya juga belum pernah sekali menikmati hiburan dengan cara seperti ini. Namun lagi-lagi kesadaran diri tentang eksistensi kelemahan seorang manusia menjadi alasan yang kuat untuk berusaha mencoba referensi mengasikan yang di beri teman.
Di tempat yang saya kunjungi tersebut lumayan bernuansa dan memiliki level yang cukup, untuk standar orang muda seperti saya. Gairah kelaki-lakian pun menggebu-gebu. Belum lagi kerja penggoda manusia (setan) yang bekerja maksimal meyakinkan bahwa ini hal biasa bagi seorang lelaki seperti saya. Semua berjalan sangat cepat tanpa kontrol. Berbekal uang jajan yang lumayan tebal hasil gaji sebulan, akhirnya saya berhasil membuat kesepakatan harga dengan seorang perempuan berparas sederhana, yang berumur lebih tua setahun dari saya. Kami di sediakan kamar ber-AC dilengkapi tv dan kamar mandi di dalamnya. Meski naluri berkelahi untuk selalu meyakinkan bahwa ini hal yang biasa, sejenak saya berpikir untuk menayakan nama, tempat tinggal sampai pada pendidikan terakhirnya. Sunguh tersentak ketika perempuan itu menyebutkan pendidikan terakhirnya strata satu di salah satu perguruan tingi di kota Manado.
Keingin tahuan saya akhirnya menutupi keinginan untuk segera menikmati referensi asik tersebut. Percakapan pun berlanjut. Sampai pada, apa motivasi si perempuan untuk menggadaika melelang kehormatanya sebegitu rendahnya. Padahal status sarjana yang disandangnya bisa membuat posisinya di masyarakat sangat terhormat dan tidak di cemooh. Dengan suara yang lembut dan semampai perempuan tersebut menuturkan tentang pengetahuannya di sela-sela pakaian mulai di lepas satu persatu.
Kita selalu meributkan anggaran public yang selalu saja di kebiri para penguasa (eksekutif dan legislative) kita saat pembahasaan rancangan Anggaran Belanja daerah (APBD) sedang bergulir. Namun hasilnya selalu saja tidak memuaskan. Suara-suara penentangan tersebut, bernasib seperti debu-debu jalanan yang terombang-ambing oleh angin dan membawanya berlalu entah kemana.Wal hasil anggaran yang menjadi jantung utama pembangunan kesejahteraan masyarakat, akhirnya juga hanya menjadi ritual tempat para penguasa mendapatkan intensif dan gontok-gontokan untuk membiayai kelompoknya sendiri. Ini bukan hal yang baru dan sudah sangat sering terjadi. Apalagi system kita yang masih sangat jauh dari peluang untuk memberikan ruangpublik yang seluas-luasnya untuk kemudian memberi control dan arahan yang cukup agar semua rancangan terkait dengan Anggaran kita bersama, menjadi tepat sasaran dan tidak boros juga memperkaya sebagian kecil golongan, padahal semua anggaran tersebut milik kita bersama.
Kira-kira seperti itu pengantar yang dia ungkapkan sambil memainkan asap rokok yang dihisapnya sesekali.
Dengan modal komunikasi yang cukup lugas, saya menelusuri terus pengetahuannya. Dia lalu menutupi jawabannya dengan mengatakan. Lebih baik seribu kali seorang pelacur yang menjual tubuhnya tanpa menyengsarakan orang lain, di banding pejabat public yang setiap harinya di puji karena kehormatannya, namun menggadaikan kehormatan tersebut, dengan cara menggunakan system untuk merampas hak-hak orang lain.
Meski sudah telanjang dada, kami memutuskan untuk menghentikan sejenak perbuatan tercela yang di kutuk masyarakat dan agama, untuk membicarakan hal-hal terkait dengan masyarakat juga. Terkesan memang sok moralis. Tapi secara rasional kita patut menerima itu, aku berguman dalam hati. Saya melanjutkan pertanyaan pada hal yang lebih serius. Kenapa tidak bekerja di tempat yang “lebih baik”?
Perempuan yang sudah menyepakati transaksi itu, menjawab dengan tatapan tajam dan sangat serius. Semua ini bukan pilihan, tapi keterdesakan. Bukankah lapangan pekerjaan sangat sulit? Kalau pun ada, upahnya sangat jauh dari kebutuhan rill yang seharusnya tersedia. Akibat menyekolahkan anak perempuannya yang tua untuk menjadi seorang sarjana, bapakku di kampung, menurut perempuan itu, sudah menjual habis seluruh tanah warisan dan harta benda. Harga cengkih jatuh dan produk-produk pertanian dari luar negeri menghancurkan pasar produk local, akibatnya bapak yang seorang petani tersebut harus menjadi buruh di pabrik-pabrik dengan UMP yang sangat minim untuk menyekolahkan anak di perguruan tinggi. Sementara ada beberapa adik-adik yang juga butuh sekolah sebagai sebuah kebutuhan pendidikan. Ironi ini diceritakan sambil telanjang dada dan tatapan yang cukup serius. Tak ada kebohongan dalam wajahnya sedikit pun.
Sekali lagi sebagai seorang aktivis mahasiswa Islam, aku berusaha menempatkan diri secerdas mungkin menghadapi si kupu-kupu malam. Dia seakan menjawab pertanyaan-pertanyaan presenter disalah satu talk show radio. Dia melanjutkan jawabannya. Belum lagi ibu dalam keadaan sakit dan tidak produktif lagi sebagai seorang manusia. Penyakit yang diderita ibu sungguh mahal obatnya dan tak mungkin dibeli seorang petani miskin-yang akhirnya menjadi buruh. Dengan rasa penasaran yang sangat tinggi, saya kembali menanyakan, meski sangat kecil tapi peluang untuk mendapat pekerjaan lain masih ada. Sambil tersenyum kecil perempuan itu malah balik bertanya, sebenarnya kategori pekerjaan yang baik dan terhormat dalam tafsiran masyarakat dan agama seperti apa?
Percakapan berhenti beberapa menit. Sambil menikmati minuman non alcohol yang sempat di pesan tadi saat bertransaksi. Beberapa lama kemudian perempuan itu lalu melanjutkan pembicaraannya. Semua gadis yang dinikmati tubuhnya disini, memiliki problem kehidupan yang hampir sama, bahkan ada juga yang lebih parah. Menurut perempuan itu, ada seorang gadis yang masih duduk di bangku SMU kelas 1 harus menerima perawannya hilang di nikmati bapak-bapak mabuk, demi mendapatkan uang untuk membayar uang sekolahnya yang sudah telat beberapa bulan. Saya langsung tersentak ketika info tersebut diceritakan dengan santainya. Fenomena social seperti ini sudah sering kita baca, nikmati di film-film, nonton di investigative reportase tv, namun tidak pernah sedikit pun kita tersentak untuk melihat jauh kejadian yang sebenarnya, dan keadaan ini berlangsung di seputaran kita semua. Orang-orang yang selalu mengklaim masyarakat religius.
Ini sebuah tali-temali yang sulit untuk di pisahkan antara satu dengan yang lain. Ada sistem yang melegitimasi proses social ini berjalan dengan mulusnya di tengah-tengah masyarakat kita. Sebuah keobrokan structural yang semacam terencana dan menjadi legitimasi yang kuat untuk bermasyarakat. Tipologi munafik yang di pelihara juga ikut-ikutan menutupi borok yang sedang terjadi di tengah-tengah kita.
Fenomena pelacur dan rentetan problematikanya ini sungguh kejadian rill dan bukan scenario film yang dibuat-buat. Semua berangkat dari kebobrokan dan salah kaprah urus Negara oleh penguasa kita. Memang pelacuran sudah terjadi dari zaman firaun berkuasa dan ini menjadi karakter atau tipologi sebuah kota, apa lagi dalam paham berkembang seperti kota kita ini. Namun yang harus dikritisi adalah motif dasar fenomena ini berlangsung. Ini bukan soal nafsu dan penyaluran birahi saja, namun lebih kepada tatanan social bermasyarakat yang membiarkan sebagian kecil masyarakatnya menderita hingga pada nadir yang paling menderita.
Belum lagi program-program “penumpasan” penyakit masyarakat yang dilakukan pihak-pihak terkait, tidak menyentuh pada permasalahan yang sesungguhnya. Para petugas keamanan hanya melihat fenomena pelacuran ini sebagai akibat hadirnya penyakit masyarakat dan penghancuran moralitas bangsa, Negara dan masyarakat. Mereka tidak melihat sisi ironi dari fenomena pelacuran secara tegas. Yang mana lebih kepada sebab tirani Negara yang tidak adil terhadap sebagian besar masyarakat, sehingga ketidak adilan dan kemiskinan mendera. Seharusnypulangan fenomena ini harus digeser pada wilayah ini, sehingga tidak hanya melakukan penertiban tapi juga memberikan solusi kongkrit.
Saya langsung meminta nomor HP-nya dan mengenakan baju dan memberi uang saku sebagai tanda terima kasih karena sudah melayani batinku sebagai orang munafik yang kadang-kadang lupa, bahwa kebobrokan yang terjadi sudah separah ini. Referensi teman yang mengasikkan tersebut berubah manjadi mimpi tentang masa depan bangsa yang lebih baik.

Tidak ada komentar: