Manado post hal.Opini
Sebenarnya wacana tentang fenomena masyarakat konsumsi, lahir dari spirit ilmuan sosial Post-Modernisme Eropa yang menafsir fenomena sosial di bawah kungkungan kapitalisme glogal, yang saat ini menjadi kekuatan dominan di dunia Internasional baik politik mau pun ekonomi. Jika dulu fenomena keberlangsungan ekonomi dunia (paska perang dunia II) menitik beratkan pada peningkatan aktivitas produksi, namun sekarang sudah bergeser menjadi orientasi konsumsi yang berlebihan.
Kita ketahui bersama bahwa diera pemasaran iklan ini, kekuatan kapitalisme, sebagai kekuatan dominan penguasaan ekonomi politik, sudah mengeserkan orientasi mereka lebih kepada bagaimana melakukan pemasaran yang efektif untuk mendapatkan peningkatan ektivitas konsumsi dari masyarakat dunia (kapitalisme lanjut). Aktivitas produksi mereka, sudah di serahkan kepada masyarakat dunia ketiga ( Negara-negara berkembang termasuk Indonesia). Fenomena ini dapat digambarkan ketika bertumbuhnya pabrik-pabrik produk luar di Indonesia, dengan melakukan pemanfataan pada wilayah buruh murah dan eksploitasi sumber daya alam di tanah air.
Hal ini juga tidak bisa terlepas dari regulasi kebijakan dalam negeri Indonesia sendiri yang membangun kekuatan ekonominya, sangat bergantung kepada investasi asing yang menjanjikan kesejahteraan semu bagi masyarakat. Ketergantungan ini sudah terbukti gagal ketika krisis ekonomi pada beberapa tahun lalu. Standarisasi kesejahteraan, dinilai dari bertumbuhnya infrastuktur yang megah, ruang public baru seperti mal-mal dan pusat perbelanjan yang mengalahkan rumah-rumah ibadah. Wan hasil kemegahan tersebut mampu menutupi sebagian besar masyarakat Indonesia, (yang sebagian besar masyarakat religius) yang terjerat dibawah garis kemiskinan.
Lihat saja kehidupan dikota-kota besar. Kemiskinan merupakan hal biasa dan kesenjangan sangat terbuka lebar. Kemagahan-kemegahan yang ditimbulkan dari system ekonomi dalam negeri yang tergantung pada Investasi asing dan orientasi persaingan pasar bebas ini, membuat potensi kekuatan ekonomi local seperti pengusaha-penusaha local atau kekuatan ekonomi lain (keturunan Arab dan Cina) menjadi kelompok masyarakat kedua dilapisan ekonomi, setelah bangsa Amerika dan Eropa. Akhirnya yang terjadi, yang memiliki kesempatan untuk menggarap potensi lokalitas baik sector ekonomi industri mau pun pemanfataan sumber daya alam, kelas pertamalah yang mendapat kesempatan terlebih dahulu. Akibat yang ditimbulkan adalah, terjadi pengerucutan kekayaan pada kelompok tertentu (kelompok asing barat dan orang-orang yang memiliki akses kekuasaan) dan malah memiskinkan kelompok lain, yang nota benenya adalah masyarakat asli pada umumnya.
Kembali pada masyarakat konsumsi. Industrialisasi perdagangan kekinian, sangat syarat dengan strategi pemasaran iklan yang luar biasa kencang. Logika pemasaran iklan ini mampu menembus sendi kehidupan masyarakat dengan berupaya menciptakan gaya hidup modern yang berkiblat pada referensi-referensi yang hadir lewat teknologi media Informasi. Pada tahapan seperti ini, masyarakat seakan tidak diberikan pilihan lain selain mengikuti trend gaya hidup yang sudah di stel atau di atur oleh para ahli marketing produk-produk yang telah disediakan. Polah marketing modern ini merubah pola pikir masyarakat menjadikan seluruh produk yang dihasilkan harus dalam koridor barang primer (kebutuhan utama), walau terkadang produk atau barang tersebut sebenarnya, tidak terlalu dibutuhkan oleh kelompok masyarat.
Fenomena yang paling menarik adalah ketertundukan masyarakat pada gedung-gedung megah pusat perbelanjaan, ketergantungan pada perangkat-perangkat multi media seperti HP berkamera, kamera digital, rumah dengan desain Eropa, mobil import dengan paket kredit yang memudahkan pembelian dan masih banyak lagi yang akhirnya memainkan hasrat para objek marketing, yang dalam hal ini adalah masyarakat. Dunia periklanan modern lebih mejual imej atau pencitraan dibanding menjual produk secara substansial. Seorang ibu rumah tangga akan terlihat mengikuti trend ketika dia bisa menikmati masakan-masakan siap saji yang disuguhkan di berbagai pusat perbelanjaan. Merek merupakan pencitraan eksistensi kedirian masyarakat konsumsi. Seseorang akan merasa risih ketika merk HP-nya tidak terlalu terkenal dan tidak mengunakan kamera. Penjualan pencitraan ini menggeser kesadaran masyarakat lebih kepada aktivitas bermimpi dibanding membeli.
Kekuatan-kekuatan bahasa iklan tersebut, membuat masyarakat teralienasi atau terasing dari eksistensi dirinya sendiri. Bahasa pesan dalam iklan menyiratkan sesuatu yang semu, penekanan dan keterasingan juga mimpi-mimpi. Sturuktur dalam bahasa-bahasa pesan menunjukan “penekanan” dan tidak dalam proses “dialog” yang dua arah. Masyarakat seakan hanya diberi pilihan dan mimpi. Setelah itu dibiarkan menjadi kaku dengan gambaran keterdesakan gaya hidup yang sudah ditawarkan. Masyarakat akhirnya sangat menggandrungi kelamoran, suka ria, sehingga melupakan keberadaan mereka secara politik dan keberlangsungan mereka secara sosial.
Kekuatan Komersil yang menyiratkan keglamoran ini juga menyeruak ke dalam sendi kehidupan beragama didalam masyarakat. Dunia komersialisasi menawarkan sesuatu yang glamour dalam kehidupan bermasyarakat di wilayah keagamaan. Kita semua bisa bayangkan kalau masyarakat dikonstruk daya pikirnya untuk menikmati semiotic (tanda-tanda symbol) agama yang diciptakan oleh dunia industri perdagangan. Dunia marketing merubah pola hidup beragama masyarakat kebanyakan. Anda bisa bayankan ketika orang yang berkecukupan lebih memilih untuk membelanjakan rezekinya untuk hal-hal yang hanya bersifat simbolik di dalam agama dibanding mengerjakan sesuatu yang sustansial dalam beribadah. Misalnya seorang kaya lebih memilih menghiasi ruang tamunya dengan tulisan kaligrafi megah dengan harga jutaan rupiah dibanding menyumbangkannya ke panti-panti asuhan atau fakir miskin. Bermunculan pula paket-paket perjalanan haji seperti paket perjalanan wisata yang harganya lumayan mahal. Belum lagi bermunculan trend pakaian muslim dan muslimah yang mengikuti salah seorang dai kondang, dengan harga yang beragam. Produk-pruduk makanan, minuman dan obat suplemen yang memanfaatkan buka puasa dan sahur sebagai pintu masuk pemasaran, membuat kita merasa sangat khusuk beribadah ketika sudah memenuhi syarat yang disodorkan oleh para pengiklan tersebut.
Kondisi ini menginterupsi spirit ketauhidan didalam Islam dan memberi alternative penghambaan kepada umat, dalam menjalankan setiap ibadah (baik ibadah sosial mau pun ibadah individu) Keberlangsungan fenomena ini menyiratkan pergeseran kekhusuhan kita dalam beribadah. Umat akan lebih memilih untuk menjadi hamba “merek produk” dibanding hamba Allah SWT. Bukankah frem peribadatan harus dalam koridor yang selama ini dipesankan didalam agama. Bahwa marilah kita beribadah dalam keadaan khusuk dan tidak terlalu berlebihan dalam penampilan. Komersialisasi agama ini menghancurkan nilai-nilai harfiah keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah pula frem konsumsi dalam Islam hanya untuk pemenuhan ”bekal ibadah” (Moeslim Abdurahman, Islam Sebagai Kritik Sosial). Dan bukankah men-gilai sesuatu yang bukan Allah SWT adalah suatu tindakan yang sirik. Mungkin berhala seperti yang diceritakan dalam kisah-kisah Nabi telah meniada secara bentuk, tapi jangan pikir sudah menghilang secara substansi. Penghambaan terhadap imej dan citra produk yang ditawarkan oleh kapitalisme global, juga merupakan bentuk penghambaan berhala secara kontemporer.
Disini kita harus benar-benar membangkitkan kembali peran agama dalam melihat fenomena sosial kekinian dalam wilayah penerapan ibadah dan upaya siar agama. Kapitalisme global dengan spirit konsumsinya, tidak mengenal agama dan jenis kelamin. Spirit ini mampu merubah rupanya sesuai dengan apa pun kebutuhan masyarakat dan mampu merebut kekuatan sosial apa pun untuk men-gol-kan upaya pemasarannya, termasuk merebut citra agama untuk kemudian dikomersialisasikan.
Di bulan yang diserukan untuk menahan seluruh hasrat yang berlebihan pun tidak lolos dari target hantaman pemasaran. Setiap produk, mulai dari mobil mewah sampai industri tekstil memanfaatkan Ramadhan untuk membuat laku barang mereka. Idel fitri yang seharusnya ditafsir sebagai suka ria kemenangan terhadap penghentian “hasrat berlebihan” akhirnya menjadi tumpahan hasrat membelanjakan barang dan jasa demi aplikasi simbolik agama. Padahal ada infak dan sedekah yang seharusnya menjadi prioritas kita. Namun hal tersebut terkadang terlupakan bahkan ditiadakan sama sekali oleh orang-orang yang mampu di kalangan Islam ketika mengakhiri Ramadhan. Kita akan lebih terasa resah ketika pagar rumah belum dicat rapih dan sofa ruang tamu belum diganti, dibanding memikirkan seruan panitia zakat dan infak dari pengerah suara mesjid. Menjelang akhir ramadhan. Padahal akhir ramadhan adalah hari kemenangan dari perang terberat kita melawan hawa nafsu, yang salah satunya adalah hidup berlebih dan melupakan fakir miskin.
Sementara itu dalam Islam, seperti yang kita ketahui bersama ada spirit ketauhidan yang meng-Esa-kan Allah dalam frem apa pun. Sehingga kajian-kajian ketauhidan dan pengkajian Al-Quran harus diarahkan untuk mampu menjawab tantangan kekinian sesuai dengan perkembangan zaman. Musuh agama dalam wilayah moralitas sudah semakin samara menampakkan dirinya. Sehinga kita harus mampu memenej kajian-kajian keagamaan menembus wilayah-wilayah kekakuan agama, untuk bisa mengkonstruksi penafsiran kita terhadap zaman.
Ramadhan mendesak kita untuk bisa kembali kepada fitrah sebagai manusia seutuhnya. Eksistensi kesederhanaan dan kejujuran yang memang merupakan sifat dasar manusiawi. Islam memang keyakinan yang tidak menentang kepemilikan harta dan pemenuhan hasrat duniawi. Namun spirit ketauhidan menginterupsi hasrat kita untuk tidak rasional melakukan kejaran duniawi dan keserakahan yang gila-gilaan sehinga menciptakan kerenggangan sosial dan menghentikan silaturahmi seutuhnya antar umat. Dengan menginterupsi keserakahan kita, maka semua kita akan terjalin dalam satu silaturahmi yang inklusif dan bersahaja. Tatanan seperti ini menhilangkan kerenggangan antara manusia. Entah penguasa dan rakyatnya, kaya dan miskin, kelompok satu dan lainnya. Perbedaan tidak dipilah dari segi kepemilikan harta, tapi kekhusuan ibadah.
Sabda Rasullulah SAW “makanlah engkau setelah merasa lapar, dan berhentilah engkau sebelum merasa kenyang” kiranya bisa dikontekstualkan untuk menanggapi desakan komersialisasi agama, secara kekinian. Mampukah kita menahan hasrat untuk tidak dimaikan kapitalisme global dan menjadi masyarakat dengan citra-citra semu, melainkan beralih peran menjadi manusia dengan peribadatan sempurna pada ketauhidan. Tentu terlalu naïf kita segera memberi lebel haram terhadap seluruh produk yang berupaya di pasarkan. Marilah tangapi serangan pemasaran tersebut sebagai cobaan yang paling keras untuk menjadi spirit untuk terus berusaha dan bangkit untuk bekerja lebih giat dan menciptakan prestasi. Sehingga jika pun kita termasuk orang-orang yang beruntung secara materi, kita termasuk orang-orang yang tidak hanya akan larut dalam upaya mengkonsumsi seluruh harta dijalan yang sesat, melainkan membelanjakannya di jalan Allah (Jihad yang sesunguhnya). Sekali lagi ini semua bisa terselesaikan dengan upaya memodifikasi pemahaman agama dari pemahaman tekstual menuju pengkajian kontekstual. Dan marilah berkhusuk ria didalam ibadah karena ridho Allah bukan tampilan merek produk yang di suguhkan kapitalisme global. Ramadhan adalah ruang yang paling nyata bagi kesederhanaan dan kehkusuan ibadah, karena sangat bersifat personal namun memiliki implikasi sosial yang sangat besar. Sehingga dalam kesempatan ramadhan kali ini, marilah menciptakan kesederhanaan secara personal untuk mencapai kemaslahatan umat secara sosial. Selamat meraih kemenangan di hari yang Fitri.
September 29, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar