September 15, 2008

Benarkah Amin Rais Menyelamatkan Indonesia????

Dalam sebuah kesempatan yang sangat beruntung saya berkesempatan mewawancarai seorang tokoh besar yang sangat di kenal kapabilitas intelektualnya. Bang Amin Rais. Wawancara kami seputar buku Selamatkan Indonesia yang ditulis beliau.
Berbeda dengan bang Akbar Tanjung yang menulis buku tentang partai yang pernah beliau pimpin. Bang Amin lebih memilih untuk menghadirkan sebuah wacana yang sebenarnya tidak baru di Indonesia. Wacana yang ditawarkan bang Amin adalah sebuah wacana alternative yang sudah lama diusung para aktivis kiri negeri ini.
Dari wawancara dan buku yang sudah saya baca secara tuntas, bang amin berupaya menginterupsi wacana dominant yang selama ini mengakar dan menjadi mainstream utama di Indonesia dan dunia global. Sebuah pembongkaran makna ketergantungan semu antara Negara ini, dengan modal asing yang sudah berjalan sangat lama. Penjajahan gaya baru (neo-kolonialisme) yang dibangun lewat pemikiran ekonomi pembangunan ala mafia barkley yang sudah lama terpraktekkan di negara ini. Dari spirit ini, sehingga Negara ini mengalami kerugian sangat besar di wilayah ekonomi. Pengerukan kekayaan ekonomis secara tidak berimbang yang dilakukan Negara asing, mengakibatkan Negara ini tidak memiliki keuntungan sedikit pun dari potensi ekonomi yang dimilikinya. Bang Amin mencontohkan beberapa Negara Amerika Latin yang mempraktekkan perlawanan terhadap pola penjajahan gaya baru ini lewat pemimpin mereka (evo morales dan hugo saves).
Wacana diatas sebenarnya sudah lebih dahulu dihembuskan para aktivis LSM dan mahasiswa yang kebetulan memiliki prespektif Marxian. Ada (Alm) Mansour Fakih dengan intelektual organignya. Fakih sangat gamblang menawarkan solusi tentang kondisi Negara ini yang mengalami penjajahan gaya baru. Selanjutnya Ravrison Baswir yang menekankan perspektif ekonomi anti utang luar negeri. Yang terakhir ada Eko Prasetio dengan bisnis percetakan wacana alternatifnya (RESIS) sangat intens memproduksi tulisan-tulisan dengan wacana serupa. Mereka tidak sebatas menggambarkan kondisi dan menanyakan solusi dan siapa actor yang akan melakukan perbaikan-seperti yang dilakukan Bang Amin dalam Selamatkan Indonesia. Mereka sudah sampai pada level mendebatkan konsep apa yang paling tepat untuk menginterupsi kecendrungan yang terjadi akibat alienasi wacana global di wilayah ekonomi politik ini.
Sebagai tokoh besar, Bang Amin sebenarnya telat mengkucurkan dan mencermati kondisi ini. Kesimpulan ini saya tarik karena saat Bang Amin memiliki kekuasaan menjadi ketua MPR, ada beberapa asset Negara ini yang kemudian lepas ke pihak asing. Praktek eksploitasi ekonomi dan sumber daya alam juga penanda tanganan perjanjian-perjanjian baru dengan lembaga-lembaga Internasional terjadi dengan mulusnya.
Seandainya bang Amin secepat para tokoh yang tidak terlalu popular dan tidak memiliki struktur kekuasaan itu menyadari kondisi ini, mungkin beliau sudah menjadi Evo Morales-nya Indonesia. Atau setidaknya menjadi Fidel Kastro-nya Indonesia. Namun tidak mengapa, orang sekaliber bang Amin sudah menyadari bahwa ada sesuatu dengan kondisi perekonomian makro Negara ini. Ada yang tidak becus tentang kepemimpinan Negara ini saat menjalin hubungan politik global. Bang Amin sudah benar-benar menyadari bahwa kita selama ini ditipu dengan berbagai macam wacana yang terlihat WAH dan menggiurkan padahal malah menghancurkan kita secara perlahan. Wacana ini yang dikatakan Francis Fukuyama sebagai Demokrasi Liberal. Sebuah waham yang memenangkan pertarungan sejarah dan akhirnya menyelesaikan perjalanan sejarah tersebut. Fukuyama lupa, bahwa sejarah tidak akan pernah berhenti selama ada penindasan yang memekar. Sebab itu sudah menjadi Sunatullah atau ketentuan Ilahiah. Ingat Feodalisme yang pernah mekar berabad-abad akhirnya juga selesai dan runtuh oleh kondisi yang tidak berimbang yang diciptakannya sendiri. Demokrasi liberal dengan spirit Kapitalisme dan globalisasi baru saja lending selama satu abad. Namun sudah mengalami krisis di sana sini.
Selamatkan Indonesia tidak hanya tugas bang Amin. Tapi semua diantara kita yang punya rasio dan tidak buta melihat kondisi rill yang terjadi…semoga kita tidak terlambat menyadari kondisi ini sebelum benar-benar sulit untuk diselesaikan…..

Mari Belajar Secara Sederhana….
Aku terlibat pembicaraan dengan ibu-ibu di kompleks tempat aku tinggal. Pembicaraan mereka kali ini sedikit menarik dari yang sudah-sudah. Mereka sedang membicarakan berita yang baru saja di tayangkan oleh salah satu tv swasta. Tayangan tv itu memberitakan tentang meninggalnya 21 orang di salah satu daerah di Indonesia, saat berebut mendapatkan zakat yang dibagikan.Para ibu-ibu yang juga dari kalangan sederhana ini, terkaget-kaget dengan kondisi ini. Mereka ngeri dan bahkan ada yang merinding membicarakan berita tersebut. Menurut mereka ini sebuah kondisi yang sangat tidak masuk diakal. Ada 21 orang hanya di satu tempat saja yang meninggal karena berebut bantuan.

Ibu-ibu ini dari kalangan yang tidak berpendidikan. Mereka hanya bisa berpendapat kecut dengan kondisi ini. Mereka menanyakan kemana para pemimpin Negara ini? Yang sebentar-sebentar membeberkan data tentang menaiknya pertumbuhan ekonomi di Negara ini. Ada yang menggerutu tentang tampilan para elit yang terlihat sangat cerdas saat tampil di depan kamera tv menerangkan tentang setiap program yang sudah di lakukan oleh pemerintah.

Ibu-ibu itu menghadirkan kekecewaan. Amarah tapi juga pesimistis yang tinggi. Jika pun marah, kecewa, geli terus apa yang bisa mereka lakukan? Gerutu itu hanya mengambang dan selalu saja berlalu bagai debu yang tertiup angin.

Mereka akhirnya pesemis terhadap apa pun yang diprogramkan pemerintah. Pemerintah akhirnya absent dari harapan mereka sebagai warga Negara. Pemerintah seperti institusi kosong yang hanya menghadirkan harapan semu dan melakukan anomaly terus-terusan.

Mereka geli dengan berjuta tokoh nasional yang mengiklankan dirinya sebagai lokamotif pembangkit gairah berbangsa dan bernegara di tv-tv swasta. Para elit itu mengajak berbuat, menyelamatkan, memperbaiki, memodivikasi dan berjubel slogan normative. Para ibu-ibu ini sudah paham, iklan-iklan ini hadir karena sebentar lagi ada momen politik yang merupakan sebuah ajang perebutan dan pendistribusian kekuasaan. Para ibu-ibu ini sadar, pesta itu hanya untuk mereka yang mengiklankan dirinya di tv dan mereka yang wajahnya terpampang di spanduk-spanduk sepanjang jalan utama dan lorong-rolong kampung.

Pesta demokrasi yang akan digelar pada 2009 nanti hanya sebuah gempita kebohongan dan janji-janji palsu para caleg dan para capres juga cawapres. Mereka merasa terekspolitasi dan termanfaatkan sebagai orang-orang yang lemah. Sebagai sebuah komunitas lemah yang siap diterkam dan mau tidak mau harus terima untuk di badohi untuk kesekian kalinya.

Kita selalu saja merubah mekanisme dan saluran prosudural. Kita lupa memaknai nilai yang harus benar-benar di perjuangkan. Perubahan-perubahan mekanisme yang termodifikasi hanya untuk mempenetrasi gairah berkuasa oleh setiap elit yang sama sekali miskin prespektif bernegara. Mereka hanya memiliki orientasi berkuasa yang miskin makna dan kikir rasa.

Para ibu-ibu ini, akhirnya memilih untuk mengambil sikap yang sama sekali tidak formal karena tidak mungkin diakomodir di dalam bertumpuknya mekanisme aturan yang kita miliki. Mereka memilih untuk tidak seantusias 2004 memilih wakil mereka. Mereka memilih mewakili diri mereka sendiri. Membangun keluarga dan mendidik anak-anak mereka dengan susah payah tanpa ada harapan sedikit pun tentang pemerintah. Mereka menganggap consensus mereka tentang bernegara telah pupus. Mereka di jajah dan tertindas oleh pemerintah dan Negara mereka sendiri. Mereka akhirnya merasa tak memiliki legitimasi secara nilai dan harapan tentang pembentukan Negara.
Setidaknya mari kita belajar dari mereka secara rill dan sederhana. Akan ada kepekaan yang akan hari untuk hati yang mungkin sudah membantu….

Tidak ada komentar: