Pagi itu. Saat mentari 2007 terbit diantara kabut awan yang memendung diufuk timur, terbit pula seongkah tanya yang mengepul di langit-langit diantara rintik hujan. Setelah lelah merayakan detik-detik old and new, kota yang katanya sebentar lagi menyambut mimpi baru pemerintah kota tentang pariwisata, mulai terlihat murung dan kelelahan. Ucapan-ucapan selamat menyambut tahun baru yang menghiasi setiap gerbang gedung institusi-institusi-baik negeri mau pun swasta- sudah mulai terlihat biasa-biasa lagi. Pagi itu. 1 januari 2007 semua terlihat memisteri disetiap sudut kota. Beribu tanya seakan membisukan kota ini. Namun ada jawaban-jawaban terselubung yang menyiratkan setiap masyarakat kota, untuk bisa menerima bahwa 2007 akan mengkondisikan kota ini menjadi surga industri perdagangan yang syarat pertarungan citra marketing.
2006 merubah segala yang biasa di kota ini. Mulai dari angapan kita tentang kesemrautan PKL yang telah berubah menjadi penertiban PKL, mulai dari pesimisme tentang berhamburannya sampah, menjadi hadirnya perda tentang sampah. Mulai dari sulitnya menikmati pusat belanja, berubah menjadi kebingungan memilih lokasi belanja yang tepat karena berhamburanya pilihan lokasi belanja. Kini kita akan lebih mudah menemukan papan reklame dengan ukuran lebih besar dari ukuran gawang sepak bola yang di sepakati oleh FIFA. Papan-papan ini menjadi isyarat bisu tentang betebarannya produk import yang merambah pasaran produk di kota ini. Masyarakat kota ini sudah tidak perlu lama-lama menunggu kolega yang beruntung ke luar negeri untuk membawa oleh-oleh dari negari seberang. Sebab produk yang di jual di negeri mana pun, sudah mudah di dapat dengan menggunakan transportasi angkutan kota menuju kawasan bisnis yang sudah diseting pemerintah.
Pagi itu. Masih sangat sepi dan sangat dini untuk melihat apa yang akan terjadi nanti. Yang pasti ada gedung-gedung tinggi perbelanjaan yang baru setengah jadi, akan segera di selesaikan di 2007. Ada upaya realisasi kebijakan tentang arah lanskap kota ini akan di tata dan mengiring konstruksi pemikiran masyarakat untuk mengamininya. 2006 semua komponen kota bicara tentang kebijakan spektakuler pemerintah kota tentang kawasan industri bisnis untuk menopang pencapaian target kota pariwisata dunia 2010. Media-media diarahkan untuk berebutan menjadi jembatan utama mimpi-mimpi besar tentang sorga industri bisnis tersebut.
2006 menampilkan masyarakat dalam satu bentuk yang seragam dan tunduk pada homogenisasi gaya hidup yang ditawarkan oleh gemerlapnya kondisi urban di kota ini. Tahun yang baru saja kita tingalkan, menjadikan ruang public di kota ini menjadi wahana komersil yang mau tidak mau harus di tempati dengan biaya yang tidak kecil. Masyarakat terasing dari hak ruang yang mereka tempati dari sebuah kota. Tidak hanya orang dewasa. Anak-anak yang harusnya diberikan hak bermain, kini digiring menjadi objek pemenuhan hasrat komersialisasi dari sebuah kota yang dikonstruk menjadi salah satu kawasan bisnis terbesar. Selain ruang nonton tv dengan bertaburnya iklan-iklan, anak-anak kini hanya bisa menikmati tempat parkir, ekskalator, dan taman-taman bermain buatan di mal-mal dan pusat perbelanjan lain. Ramainnya pusat perbelanjan. Mengamini sebuah hipotesa bahwa perekonomian kota ini meningkat diwilayah pemenuhan hak ekonomi rakyat. buktinya banyak yang berbelanja. Namun mungkinkah angka-angka tersebut bisa menembus berapa banyak yang menjadi miskin dan bersiap-siap menjadi miskin dikota ini. Apakah keramaian di gedung mewah tersebut bisa dibandingkan dengan ditemukannya beberapa anak dengan gizi buruk di kota ini (beberapa data yang diberitakan oleh Koran ini) apakah kondisi megah kawasan tersebut bisa mengambarkan betapa ironisnya para PKL yang akhirnya berhenti berjualan akibat berbenturan dengan penegakan peraturan pemerintah.
Di 2006 pemerintahan kota yang mengalami refleksi satu tahun pemerintahannya. Mendapat tanggapan yang beragam terkait arah regulasi kebijakan. Ada yang memberi respon positif, ada yang memberi kritik pedas. Ini sebuah kondisi yang biasa dalam wahana demokratis. Pernah ada pengerahan masa besar-besaran untuk memprotes kebijakan penertiban PKL disatu tahun pertama pemerintahan kota. Ada juga respon positif terkait penataan kota ini. Yang pasti silang pendapat ini memberi sebuah “tanda” tentang era keterbukaan di kota ini. Namun era keterbukaan ini masih dimenangkan oleh kalangan elit yang melulu menafsir segala fenomena menurut tafsiran mereka. Presure ketidak setujuan PKL untuk di relokasi akhirnya menjadi wadah pencitran politisi local. Konflik yang seharusnya diarahkan antara pemerintah si pemegang kebijakan dan masyarakat si objek kebijakan, berbalik arah menjadi ajang saling memaki para elit. Tidak bisa di pungkiri. Memang tidak ada perangkat yang kongrit, misalnya konsolidasi akar rumput yang kongkrit untuk bisa melakukan tekanan yang keras terhadap kebijakan yang tidak disetujui. Akhirnya yang terjadi adalah pemanfaatan momen oleh beberapa tokoh yang secara substansi melakukan perlawanan bukan semata-mata menggolkan kepentingan masyarakat. Namun lebih kepada proses sakit hati politik yang akhirnya membuat arah gerakan perlawanan menjadi tidak produktif dan malah melemahkan posisi tawar masyarakat dalam melakukan tuntutan.
Pagi ini memang sangat dini mengenali tanda-tanda “yang lebih baik” di tahun yang baru. Yang pasti kita sudah bisa memastikannya dari gelegat akhir dari pemerintah ketika menyambut terompet tahun baru. Masih tidak ada ruang dialog yang transparan-bukan sembunyi-sembuyi dan melibatkan segelintir tokoh saja- yang diniatkan oleh pemerintah kota. Dalil yang digunakan masih berkiblat pada sebuah aturan yang dikeluarkan dari proses yang benar-benar tidak melibatkan si pelaksana aturan dalam hal ini masyarakat. Sehingga pagi ini, kita masih bisa melihat bahwa penegakan aturan yang timpang oleh pemerintah kota, masih akan dilaksanakan pada waktu-waktu selanjutnya di tahun 2007.Ini masih prediksi.
Mungkin maksud pemerintah kota kita sangat baik untuk perkembangan kota ke depan. Hernando Desoto menulis tentang buku fenomenal terkait modal mati yang dialami pelaku usaha kecil di Negara-negara dunia ketiga. Ironi yang mereka hadapi sungguh menggugah perasaan. Warga asli yang seharusnya mendapatkan intensif pada wilayah pengembangan usaha, akhirnya dimatikan oleh upaya penegakan aturan timpang dan pukul rata oleh sebagian besar pemerintah di negeri tercinta ini. Mereka kesulitan mendapatkan sebuah legalitas terkait usaha yang mereka kembangkan. Faktor-faktor produksi yang merupkan syarat utama pengembangan usaha terkadang langkah bagi mereka.Yang ada adalah upaya penyamarataan posisi antara mereka dengan pedagang milioner dari asing timur dan asing barat. Maka yang terjadi adalah isolasi potensi yang melulu dialamatkan oleh mereka. Aturan memang harus tegas dipatuhi. Namun jika aturan tidak lahir dari sebuah refleksi panjang dan perumusan yang benar-benar mendasar, maka akan menjadi bias ketika diterapkan. Dalam penegakan aturan memang suatu hal biasa jika mengalami kontradiksi. Tapi bukankah yang terjadi bukan kontradiksi tapi sebuah keterdesakan kongrit yang mau tidak mau harus didengar,lihat dan rasakan dengan hati yang suci oleh para pemimpin. Karena mau tidak mau, setuju tidak setuju, mereka-masyarakat- adalah pemegang mandate utama di negeri dalam bentuk republic ini.
Maksud pemerintah kita mungkin sebenarnya baik. Misalnya dengan memberikan ruang dan tempat bagi para PKL yang ditertibkan dari areal yang dilarang, tinggal bagaimana mendengar dan melihat kebutuhan substansi dari keinginan tersebut. Mungkin dengan merelokasi ada upaya pelegalan yang dilakukan oleh pemerintah kota ini. Namun pelegalan juga harus disertai dengan kajian studi kelayakan usaha yang dikembangkan para pelaku usaha mikro kecil menegah kota ini. Memang pagi itu masih sangat sulit untuk melihat apakah 2007 ada upaya yang lebih pas-kalau boleh dikatan lebih sopan.
2004 berubah 2005 dan berubah lagi 2006. Dan pagi ini sudah 2007. Sesuatu tentang catatan urban di akhir tahun lalu menulis tentang angka-angka kemiskinan yang signifikan menaik, angka putus sekolah yang cukup berlimpah, jumlah kekurangan gizi yang sangat mengkhawatirkan, nasib petani yang tidak berarah, bertambahnya kaum miskin kota, sembrautnya layanan birokrasi, tidak jalannya mesin-mesin politik sebagai kendaran kepentingan masyarakat dan banyak sekali catatan-catatan ironi tentang tahun kemarin. Warga kota tidak akan jauh berubah para tahun 2007. Pagi ini, pasti banyak yang memikirkan tentang aktivitas reguler yang biasa mereka kerjakan diahari-hari biasa. Pergi pagi pulang sore atau sedikit malam. Menjumpai teman, bersama keluarga diakhir pekan, menikmati informasi baru tentang apa saja di media, rumah menjadi oase sementara selama seharian dan akhirnya melupakan tentang perubahan-perubahan dan sesuatu yang akan baru di tahun baru. Perayaan tiup terompet menjadi tanda kaku dari bertambahnya angka hitungan tahun di kalender, tapi bukan merupakan upaya pergeseran yang benar-benar substansi di wahana kehidupan universal masyarakat, secara individu mau pun masyarakat.
Maka mungkin kota di pagi ini, merepresentasi kondisi di 12 bulan mendatang. Tetap menulis tentang kebobrokan birokrasi, lambatnya penumpasan korupsi, kemiskinan yang merajalela, dan ketimpangan-ketimpanan yang menjadi heboh. Hanya mungkin wajahnya sedikit berubah diwilayah pelaku dan mungkin jumlah dari fenomena diatas malah bertambah. Yang pasti mari menunggu grand opening pusat-pusat pembelanjaan dan menikmati pencitran-pencitraan marketing, sembari menghitung-hitung lagi berapa banyak kesalahan yang menjadi karya di penghujung 2007, saat menyambut tahun yang baru 2008. Seluruh upaya pemerintah bukan hal yang haram untuk di terapkan di tahun ini -termasuk pengembangan kawasan bisnis. Namun harus selalu diingatkan tentang jawaban sebagian kecil atau bahkan sebagian besar masyarakat, yang belum merasakan efek dari perkembangan tersebut. Mungkin pemimpin kita lupa. Dan kita wajib terus mengingatkan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar