Juli 09, 2008

Gadis di Ponsel dan Membaca Zaman

Gadis itu terlihat riang ditampilkan soft where video ponsel. Tak ada sedikit pun tersirat diwajahnya, tentang suatu waktu ketika adegan yang dibuatnya, akan menjadi konsumsi khalayak ramai. Tak ada beban disetiap gerakan yang dilakukan sembari mencuri-curi pandang layar ponsel. Entah apa yang dia pikir saat itu. Yang pasti tidak tentang masa kecilnya, masa depannya, atau keributan serius yang selalu dihadirkan surat kabar negeri ini, paska reformasi dikumandangkan. Mungkin yang dia tau saat itu, hanyalah sebuah camera- yang menurut keterangan adalah camera ponsel- sedang merekam syahdu setiap gerak yang dia hadirkan. Dia memainkan ritme waktu dalam kesepian menjadi riuh yang ceria tapi juga erotis. Sebuah adegan yang sepi dari keramaian, jauh dari kepentingan, dan senyap dari doktrin dan tata nilai. “Ini hanya untuk ponselku, dia yang sedang berada denganku dan aku. Tidak untuk orang lain” Begitu pribadi dan rahasia, kurang lebih seperti itu yang dia pikirkan.
Namun kesenyapan itu, berubah menjadi riuh khalayak bermoral dan beretika di komunitas tempat dia tinggal. Sebuah riuh khalayak yang entah mengasihani, mencemooh atau tergoda. Yang pasti semua meramaikan pembicaraan tentang kenikmatan teledor yang dia lakukan saat itu. Salah satu wartawan yang lihai menginvestigasi adegan mesum ponsel pun menulisnya di koran kota dengan gamblangnya. Tidak hanya orang dekat yang menikmati berita buruk itu. Teman-teman dekat, saudaranya teman-teman, bapak ibu dari kenalan-kenalan, teman-teman dekat para kenalan, tetangga, saudaranya para tetangga dan akhirnya memenuhi setiap sudut pembicaraan. Baik di rumah kopi atau di meja-meja makan keluarga. Bahkan menjadi standarisasi nasihat setiap orang tua kepada anak gadis mereka.
Beramai-ramailah orang untuk berusaha menutupi sekaligus membuka lebar-lebar aib gadis itu. Pembicaraan tidak hanya seputar lihainya melakukan setiap adegan. Tapi masa kecilnya, aktivitas orang tuanya, lembaga pendidikan tempat dia menuntut ilmu sampai kepercayaan yang dianut. Mengemuka dan tertelanjang tanpa sehelai pun batasan. Pembicaraan itu bahkan mengalahkan reting gosipnya Rahma Azhari yang dengan sengaja membuat foto telanjang untuk koleksi pribadi.
Ini sebuah fenomena yang sedang menjadi petanda perubahan. Yang sadar atau tidak sadar perdebatan teoritis dan ilmiah mengenai fenomena ini, sudah sering diseminarkan dengan pembicara orang-orang pintar. Kita bicara tentang berubahnya kecendrungan pola ekonomi yang kita bangun diatas mantera-mantera pembangunan teori barat. Sebuah mantera yang menitik beratkan kesejahteraan pada wilayah materil dan pengadaan gedung-gedung besar dan megah. Kita bicara tentang keterbukaan politik dengan mengedepankan hak bicara minoritas dan mendewakan kemenangan mayoritas. Kita seakan percaya benar tentang masa depan yang indah tanpa kelaparan dikala investasi menjamur. Padahal kita lupa pada kepastian didepan mata yang sering terjadi dan lewat begitu saja. Sebuah petanda perubahan yang mau tidak mau harus segera direspon dengan serius.
Dalam teori semiotika (teori tanda), fenomena gadis di ponsel itu, bisa menjadi petanda yang cukup kongrit bagi setiap konsukwesi perubahan masa depan. Itu tandanya kita sudah berada di titik yang sangat pasti tentang perubahan dan konsukuwensinya. Sebagai seorang putri yang hidup dizaman yang terlanjur seperti ini, gadis itu bisa dikatakan menjadi pahlawan zaman yang memberi tamparan bagi khalayak (orang tua mau pun kita sebagai anak muda) bahwa “ini loh perubahan” fenomena ini menjadi gambaran kongkrit betapa kita semua sangat tidak siap dengan kecendrungan yang mulai berubah. Secara eksplisit kita memang sulit membaca bahwa ada kesalahan yang terjadi dengan kecendrungan perubahan ini, tapi jika periksa lebih jauh, ada semacam pemaksaan sebuah kondisi yang sebenarnya belum siap diterima atau belum sempat diterima khalyak, karena mungkin kecendrungan ini terlalu cepat terjadi atau mungkin kecendrungan ini dipaksakan.
Hal ini terjadi karena masyarakat kita tidak memiliki kelihaian yang jeli tentang bagaimana menilai sebuah fenomena secara kongrit. Misalnya membaca tanda-tanda zaman dan bagaimana kemudian menanggapainya. Kita selalu (terutama yang muda-muda) diberi sesuatu yang hanya berbentuk kata-kata atau arahan-arahan yang sangat jauh dari kenyataan. Tak heran jika generasi harapan bangsa ini selalu saja menjadi tumbal pada wilayah pertanda “zaman telah berubah”.
Sehingga sebagai generasi yang selalu saja menjadi tumbal perubahan, kita sudah seharusnya mulai memodifikasi diri bahkan kelompok untuk lebih jeli lagi dalam pembacaan zaman dan perubahannya. Sehingga perubahan kedepan ini menjadi daya tawar yang kuat bagi kita sebagai genarasi harapan, bukan generasi tumbal. Gadis di ponsel tersebut dilihat sebagai sebuah bentuk pemberontakan zaman atas kungkungan orang tua yang selalu berpura-pura menerima modernisme dan mencampakkan kita dalam dalam situasi jeruji tradisional.
Kita sudah harus membaca zaman, tidak hanya tekstual dan kaku tapi lebih factual dan cermat. Sehingga tidak menjadi bahan cemooh generasi tua yang konserfatif dan kaku. Gadis ponsel sudah terlanjur menjadi korban cemooh orang-orang tua yang kaku dan munafik. Mari kita menjadi gerasi yang mengiakan tindakan gadis ponsel dengan cara giat membaca zaman dan melawan kecendrungan salah orang tua. Di wilayah korupsi, kolusi dan nepotisme.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

assalamuallaikum. Wr. Wb.

ka' komentar saya dalam bentuk tulisan kecil.
walaupun aga' menyimpang dari wacana tapi ada kemungkinan nda terlalu jauh.heheheheh.....

Kesadaran; suatu proses berpikir dan interaksi

Herry Arief Setiawan.


……………………. merekonstuksi dan merevisi pandangan individu dengan deskripsi dan nilai-nilai yang muncul dari kesadaran dan mampu mengekspresikan hubunganya dengan sebjektivitas. Ini merupakan penjelasan tentang subjek yang mengungkapnnya dengan tujuan untuk merubah dalam realitas dan dinamikanya. Semua itu tidak dapat diwujudkan kecuali dengan melakukan kritik dan introspeksi terhapadap individu dan kehidupanya dalam bermasyarakat. mengekspresikanya kepada alam tanpa memperdulikan segala kelemahan dan kegagalanya.
(Dr. Ali Harb).


Membaca kutipan tulisan diatas dapat memberikan gambaran yang menarik terhadap kehidupan yang sekarang ini tejadi, berasal dalam diri individu dan menerapkannya kepada kumpulan-kumpulan lainnya yang disebut masyarakat, arti umum ini sangat kompleks sehinga menjadi ketentuan dan keharusan dalam membangun hubungan prilaku dan komunikasi. Kemunduran, kelemahan menjadi kejadian-kejadian yang bersifat konsekuensi atau resiko dari setiap tindakan yang diambil sebagai langkah awal.

Adanya perkembangan pembaharuan yang melahirkan, sebuah tatanan pembangunan pikiran yang melatar belakangi sebuah proses kesadaran yang bermuara dalam individu. Perkembangan ini kemudian menjadi patokan dalam kehidupan bermasyarakat sekarang ini, sehingga menjadi sebuah keresahan yang berujung pada, kemunafikan susunan kordinasi dalam bermasyarakat yang menyangkut pautkan proses alam sebagai arena pembentukan kesadaran, menyeliuti pola pikir bermasyarakat pada umumnya dan individu pada khususnya, Segala sesuatu berdasarkan asumsi atau pendapat akan menjadi landasan keterbukaanya individu dalam bermasyarakat dan membentuk kesatuan masyarakat yang madani dan transparan.

Kontribusi yang kemudian mengalir, itu hanya berupa kritikan konsep yang mengharuskan adanya perubahan. Perubahan yang terjadi akibat kesepakatan sosial tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi nanti. Maka diperlukan sebuah kesadaran untuk menyesuaikannya dengan perubahan yang terjadi. Sehingga ketika itu terjadi, maka tidak ada yang perlu disalahkan, baik itu perubahan social, budaya, agama sampai ditingkatan politik dan ekonomi. Kebutuhan akan perubahan yang menjadi dasar setiap manusia dalam menjalani proses keterbukaan. Sehingga membuat begitu banyak perubahan dalam masyarakat dan menyeleksi setiap perubahan yang terjadi. Ketergantungan individu atau masyarakat sebagai mahluk social, dimana “manusia membutuhkan manusia yang lain” sehingga membuat setiap manusia cenderugan berharap akan keberadaan yang lainnya. Disatu sisi ketergantungan ini mengandung elemen positif dan disisi lain mengandung elemen negative, kedua sisi ini terjadi beriringan dengan kehidupan dan proses berpikir dalam keseharianya.

Permasalahan ini adalah segelintir kecakapan dalam perilaku manusia yang berputar, sampai terbentuknya komunitas baru. Karena anggapan mengenai sebuah perubahan adalah pengalihan pandangan individu, maka untuk menunjukan keberadaanya disegala ruang dan waktu, dalam keadanya, tidak terlepas dari kehidupan bermasyarakat. Sebagai upaya pengadaan individu dalam komunitasnya, yang didalamnya terdapat keseragaman, dari bias kemajemukan yang berada disekitar kehidupan individu itu sendiri. Kemajemukan itu juga mewarnai, segala dimensi dalam bidang yang sesuai dan bersifat relative. Kolaborasi-kolaborasi pikiran yang kemudian hadir adalah merupakan sebuah perpecahan dalam proses kesadaran, sehingga membelenggu penampakan realitas dan meruntuhkan simpul-simpul konsepsi ketiadaan yang membungkus kreativitas individu, namun pada dasarnya manusia akan menjadi “puing-puing yang berserakan disudut-sudut jalan kehormatanya”. Dasar inilah yang kemudiaan menjadi sebuah proyek dalam membangun kembali pemikiran yang kemudian akan menjadi boomerang. Ketidakwajaran terjadi secara terus menerus tanpa batas akhir yang ditentukan. Dari sinilah kemudian kesadaran ini harus digulirakan kearah yang lebih agresif, dalam artian suatu pekerjaan yang progress.

Penetrasi kemudian diperlukan dalam mengawasi setiap kejadian tentang kesadaran yang nantinya akan menjadi pola baru. Oleh karena itu, segala sesuatu untuk mempermudah peristiwa-peristiwa ini perlu adanya bentuk kedewasaan sehingga dampaknya tidak akan membuat kejanggalan yang malah akan memperumitnya. sehigga dapat membuat daftar baru yang imbasnya, terjadinya komunitas baru. Untuk mengisolasi kemapanan, sebagai bentuk bayang-bayang yang mengintai setiap individu untuk mengikuti arus tersebut dan mempengaruhi masyarakat sekitarnya. Yang menjadi pertanyaanyan apakah “ individu yang sebagai bahan kajian atau individu yang mengkaji sebagai bahan dari bentuk kesatuan dalam masyarakat?”. Dalam perkembangan individu, kemunculan perubahan hanya sebagai hasil dari pada gugusan ide yang di aplikasikan atau diterapkan dalam jangka pendek maupun jangka panjang, harus sesuai dengan proses alamiahnya. Sehingga perubahan ini yang nantinya akan mengubah kecenderungan individu untuk menarik diri dari masyarakat.

Tuntutan moralitas, tanggung jawab dan norma, menjadi acuan pokok dan pedoman setiap manusia dalam menjalani kehidupan sehari-harinya sebagai masyarakat. Faktor-faktor pendukung maupun factor-faktor penghabat menjadi sangat penting ketika individu mulai baranjak untuk mengadakan perubahan. Proses kesadaran merupakan sebuah fakta pencarian kebenaran, yang pada dasarnya mengalami tindakan keberpihakan, yang menuntut masing-masing individu untuk melakukanya. Terletak pada keberadaan individu ditengeh keseragaman masyarakat dalam menghubungkannya terhadap perubahan itu.

Sebagaimana yang terpapar diatas, ini hanya merupakan salah satu dari sebuah keresahan yang membuat kita diajak untuk berpikir secara normal dan positive, sebagai individu yang memiliki mekanisme dan fese dalam kehidupan yang menuntut individu harus berpikir dan menjawab tahap-tahapan langkah yang dilakukan, terhadap setiap perubahan yang terjadi dalam diri individu dan masyarakat. Karena tindakan-tindakan yang dilakukan selalu di landasi dengan pola pikir yang di yakini dan di percaya untuk melakukannya. Apakah implikasi dari tindakan itu benar atau salah tergantung dari setiap individu yang merencanakannya sehingga terealisasi dalam kehidupannya.