Juli 10, 2008

2 Sutrisno

Maaf jika ada kesamaan nama dalam penyebutan. Namun jangan kawatir, analogy ini tidak menjurus pada hal-hal yang negatif. Tapi justru sangat positif dan mungkin bisa sangat bermakna. Dalam teori hermeneutika makna bisa di analogikan dengan sesuatu yang sudah terlanjur di citrakan. Misalnya saja, nama anjing sudah sangat lekat dengan Dogi (maaf juga kalau ada kesamaan penyebutan) atau sesuatu yang lembut selalu identik dengan warna ping, dan yang keras selalu identik dengan hitam atau merah. Biasanya penganalogian digunakan, ketika bahasa-bahasa fulgar sudah sangat sulit di pahami, oleh kelompok atau personal yang ditujukan untuk berkomunikasi. Entah itu kelompok atau personal yang terdidik. Atau kelompok atau personal yang sangat terbelakang secara pendidikan.
Dalam kehidupan di perkotaan interaksi komunikatif tersebut, membentuk sebuah jejaring tentang karakter komunitas yang menempati sebuah lanskap kota. Komunitas-komunitas ini, punya kecendrungan yang khas sebagai warga kota, dengan kondisi dan reins waktu tertentu. Tak terkecuali kita warga kota Manado. Sebuah kota yang terbentang dari utara ke selatan, juga dengan kecendrungan karakter yang khas. Kekhasan karakter kota ini, sangat di pengaruhi oleh kecendrungan yang di citrakan (penganalogian tadi).
Misalnya saja pendikotomian utara selatan dalam pemetaan politik. Utara selalu diidentikkan dengan kekuatan masyarakat yang secara religius Islam dan Selatan adalah masyarakat yang selalu menggalang kekuatan Kristen. Pencitraan yang di petakan secara politik ini, akhirnya merembes sampai pada pemetaan pembangunan social ekonomi masyarakat. Utara selalu identik dengan keterbelakangan, dan selatan selalu dengan kemajuan. Buktinya, di bagian utara banyak jalan rusak, selokan yang tersumbat, perumahan kumuh dan tempat pembungan sampah. Selatan? Banyak gedung-gedung mewah dan perkantoran, perumahan elit, juga jalan yang mulus dan bagus. Saking seriusnya pencitraan ini, sampai-sampai ada kelompok tertentu yang mencoba merepresentasi dirinya sebagai orang-orang yang akan menjawab kegamangan perspektif tentang keterbelakangan utara.
Yang menjadi pertanyaan kemudian, apakah pencitraan tersebut secara actual dan rill bisa di jadikan sample untuk menarik sebuah kesimpulan, bahwa utara memang tertinggal karena selatan sementara maju. Atau ketertinggalan utara disebabkan karena kemajuan selatan. Tentu ini sebuah kesimpulan yang terlalu dini dan mungkin mengocok perut. Namanya juga pencitraan, tentu sifatnya analogy atau belum tentu pasti. Dengan bahasa lain, penganalogian adalah interaksi komunikatif yang menggambarkan sesuatu dengan makna yang tersimpan dibaliknya. Yang perlu kita jaga, adalah keterjebakan kita, ketika kita menafsir pencitraan tersebut. Ini bisa menjadi bias dalam iteraksi komunikatif. Kalau itu terjadi, saya bisa menganalogikannya seperti Kelinci peliharaan, tapi diberi nama Dogi. Itu tidak menjadi masalah, ketika kita sudah benar-benar melihat, kalau yang di pelihara adalah kelinci. Tapi jika kita belum melihat sosok dogi yang sebenarnya, maka pasti kita akan menganggap dogi adalah seeokor anjing bukan kelinci.
Bukankah kita semua paham, jika ada ketertinggalan di sebuah wilayah tertentu, dalam tata administrative perkotaan, bukan karena didesain oleh orang-orang yang mendiami wilayah lain di kota tersebut. Dan jika sebuah kota yang tergabung dalam satu kesatuan administrative pemerintahan adalah teritorial satu pemerintahan yang berkuasa. Sehinga jika ada bagian tertentu dari wilayah kota tersebut mengalami keterbelakangan, maka itu adalah keterbelakangan yang bersifat menyatu dan menyeluruh. Sehingga bisa dikata, utara jelek maka pencitraan yang akan muncul adalah selatan juga bobrok. Dan begitu pun sebaliknya. Pemahaman ini harus diluruskan, dengan benar-benar melihat sebuah pencitraan atau pelebelan pada letak yang sebenarnya. Seharusnya kegagalan pembangunan di utara merepresentasi kegagalan pembangunan seluruh kota Manado, karena ini merupakan sebuah kesatuan yang tidak bisa di pisahkan hanya dengan pelebelan yang sesat. Sehingga kalau pun ada kekecewaan orang utara itu juga harus mendompleng keresahan di selatan yang juga belum tentu sempurna. Dan secara politis bisa mendorong upaya kontrol pemerintahan yang efektif juga efisien-tanpa menghambur-hamburkan energi.
Hal diatas mungkin sebagian kecil dari salah kaprah pencitraan yang terlanjur di lebelkan. Maka janganlah kita terjebak pada sesat pikir yang kadang-kadang akan menggiring kita, menjadi orang-orang yang kelihatan hebat padahal malah di tertawai. Ada hal yang lebih substansi yang sebaiknya segera kita lihat untuk membangun masa depan lanskap kota ini. Jika salah kaprah ini menggunung, dan menjadi sebuah asumsi mutlak, maka itu mengancam konsolidasi internal basis masyarakat, untuk melakukan kontrol terhadap pemerintahan kota yang sedang berlangsung. Dan secara politis, itu sangat melemahkan posisi tawar rakyat di mata pemerintah. Karena pertarungan isu ini, hanya mewakili konflik elit yang berusaha merepresentasi kejenuhan masyarakat, dengan model pemerintahan yang tidak becus.
Masyarakat sering sekali termanfaatkan oleh salah pencitraan dan pemberian lebel yang dimainkan elit. Baik itu elit eksekutif, legislative mau pun yudikatif. Fenomena seperti ini bukan baru lagi di kota kita tercinta. Ini bisa di lihat dari arah kebijakan pemerintahan sebelumnya dan sampai sekarang. Kebijakan yang di keluarkan, selalu saja secara rill masih jauh dari upaya pengakomodiran kepentingan masyarakat yang bersifat sinergis dan berkisenambungan. Kalau pun ada? Itu hanya bersifat formalistic dan pelebelan-pelebelan yang di kemas dengan pencitraan-pencitraan yang indah dan terkadang genit.
Misalnya saja upaya pemberdayaan ekonomi rill masyarakat di bidang usaha kecil dan menengah, yang dari dulu hinga sekarang masih jauh dari harapan kita bersama. Belum lagi ketersediaan fasilitas publik yang bisa mengakomodir semua kepentingan masyarakat, belum ada yang terealisasi sampai saat ini. Belum ada perubahan yang berarti sama sekali. Yang ada hanyalah pergantian pelebelan nama kota yang sebenarnya tidak terlalu substantif dalam pengembangan kehidupan social-ekonomi masyarakat kota. Dari bersehati berganti berhikmat lalu sekarang tinutuan. Namun nama-nama itu menjadi lebel yang mengambang dan bahkan miskin makna. Orang manado tidak benar-benar bersehati, apa lagi berhikmat. Dan secara kekinian kota Manado berganti menjadi Tinutuan. Jika dikaji etimologi, tinutuan hanyalah sebuah makanan khas sebuah daerah yang terdiri dari beberapa jenis sayur, yang di campur aduk menjadi hidangan yang lezat. Mungkin pencitraan ini mewakili keberagaman, yang ada di kota Manado. Namun keberagaman ini harus juga mewakili tuntutan yang lain, seperti peningkatan kesejahteraan, dan kenyaman kota yang benar-benar bermakna.
Bukankah lebel ketenangan diantara keberagaman, juga harus menembus unsure-unsur kemanusiaan yang lain, misalnya tidak merasa lapar, tidak di usik karena penggusuran, tidak mengungsi karena banjir, tidak tergoncang ketika berada di angkot (baca:jalan rusak). Memang, Manado tidak seperti Ambon dan Poso yang sudah memiliki lebel tidak tenang di tengah keberagaman. Manado selalu menjadi kiblat ketenangan diantara keberagaman di negara ini. Namun jika lebel itu menyimpan sebuah borok yang memilukan, maka tak ada bedanya dengan sebuah kota yang telah hancur akibat kerusuhan. Kota harus benar-benar mewakili unsure kemanusiaan yang dimaksud diatas. Sehingga lebel-lebel tentang kota tersebut, tidak kemudian hanya menjadi pencitraan yang indah dan seakan mengecoh kesadaran masyarakat. Sebab pencitraan juga terkadang mengecoh kesadaran. Hal ini sering terjadi saat orde baru berkuasa.
Kemana Sutrisno yang dimaksudkan? Sutrisno yang pertama adalah seorang pengamat social yang luar biasa cerdas. Anda bisa mendengarkan suara beliau jika menontot tv local atau pun mendengarkan radio-radio local, ketika mengelar dialog interaktif. Pak Sutrisno dengan pengetahuannya yang sangat berlimpah, tidak pernah lelah memberikan komentar dan secara tidak langsung adalah konstribusi bagi apa saja yang menjadi masalah yang di bincangkan di media. Pak Sutrisno untuk sementara waktu, bisa merepresentasi keresahan, kepenatan, dan sekaligus kecerdasan masyarakat dalam melihat dan merasakan sebuah masalah yang sebenarnya melibatkan mereka secara langsung. Pak Sutrisno bisa saya analogykan sebagai sebuah tatanan masyarakat yang sudah sangat peduli dengan apa yang di alami mereka. Buktinya sudah banyak teriakan, gelombang protes dan suara kekecewaan yang dihadirkan masyarakat dengan cara yang sangat beragam. Pak Sutrisno mungkin satu dari sekian banyak masyarakat kota, yang punya keinginan yang luhur. Dan itu adalah signal awas yang paling berarti, untuk setiap pemerintahan yang berkuasa. Terutama pemerintahan kota ini, yang sudah memulai kinerja pemerintahannya. Akan banyak yang akan mengikuti sikap pak Sutrisno, yang tidak hanya tinggal diam ketika terjadi penghianatan penguasa pada masyarakat.
Sementara Sutrisno yang lain, adalah seorang gadis cantik dan menawan, yang merepresentasi sebuah keindahan yang tiada tara (dalam ukuran saya, meski itu terkadang relatif). Anda bisa melihat kecantikannya lewat pose-posenya yang menawan, di beberapa media local, atau iven-iven enterteimen di kota ini. Namanya Ririn Sutrisno. Yang jelas dia bukan pacar saya dan saya juga tidak mempunyai kepentingan komersil untuk mempromosikan dia. Namun ketenangan jiwa dan kebahagiaan batin yang saya rasakan saat meningkati keindahan kecantikannya, mungkin bisa dianalogikan sebagai sebuah harapan tentang masa depan lanskap kota ini, di tangan Imba dan Abdi.

Tidak ada komentar: