Gadis itu terlihat riang ditampilkan soft where video ponsel. Tak ada sedikit pun tersirat diwajahnya, tentang suatu waktu ketika adegan yang dibuatnya, akan menjadi konsumsi khalayak ramai. Tak ada beban disetiap gerakan yang dilakukan sembari mencuri-curi pandang layar ponsel. Entah apa yang dia pikir saat itu. Yang pasti tidak tentang masa kecilnya, masa depannya, atau keributan serius yang selalu dihadirkan surat kabar negeri ini, paska reformasi dikumandangkan. Mungkin yang dia tau saat itu, hanyalah sebuah camera- yang menurut keterangan adalah camera ponsel- sedang merekam syahdu setiap gerak yang dia hadirkan. Dia memainkan ritme waktu dalam kesepian menjadi riuh yang ceria tapi juga erotis. Sebuah adegan yang sepi dari keramaian, jauh dari kepentingan, dan senyap dari doktrin dan tata nilai. “Ini hanya untuk ponselku, dia yang sedang berada denganku dan aku. Tidak untuk orang lain” Begitu pribadi dan rahasia, kurang lebih seperti itu yang dia pikirkan.
Namun kesenyapan itu, berubah menjadi riuh khalayak bermoral dan beretika di komunitas tempat dia tinggal. Sebuah riuh khalayak yang entah mengasihani, mencemooh atau tergoda. Yang pasti semua meramaikan pembicaraan tentang kenikmatan teledor yang dia lakukan saat itu. Salah satu wartawan yang lihai menginvestigasi adegan mesum ponsel pun menulisnya di koran kota dengan gamblangnya. Tidak hanya orang dekat yang menikmati berita buruk itu. Teman-teman dekat, saudaranya teman-teman, bapak ibu dari kenalan-kenalan, teman-teman dekat para kenalan, tetangga, saudaranya para tetangga dan akhirnya memenuhi setiap sudut pembicaraan. Baik di rumah kopi atau di meja-meja makan keluarga. Bahkan menjadi standarisasi nasihat setiap orang tua kepada anak gadis mereka.
Beramai-ramailah orang untuk berusaha menutupi sekaligus membuka lebar-lebar aib gadis itu. Pembicaraan tidak hanya seputar lihainya melakukan setiap adegan. Tapi masa kecilnya, aktivitas orang tuanya, lembaga pendidikan tempat dia menuntut ilmu sampai kepercayaan yang dianut. Mengemuka dan tertelanjang tanpa sehelai pun batasan. Pembicaraan itu bahkan mengalahkan reting gosipnya Rahma Azhari yang dengan sengaja membuat foto telanjang untuk koleksi pribadi.
Ini sebuah fenomena yang sedang menjadi petanda perubahan. Yang sadar atau tidak sadar perdebatan teoritis dan ilmiah mengenai fenomena ini, sudah sering diseminarkan dengan pembicara orang-orang pintar. Kita bicara tentang berubahnya kecendrungan pola ekonomi yang kita bangun diatas mantera-mantera pembangunan teori barat. Sebuah mantera yang menitik beratkan kesejahteraan pada wilayah materil dan pengadaan gedung-gedung besar dan megah. Kita bicara tentang keterbukaan politik dengan mengedepankan hak bicara minoritas dan mendewakan kemenangan mayoritas. Kita seakan percaya benar tentang masa depan yang indah tanpa kelaparan dikala investasi menjamur. Padahal kita lupa pada kepastian didepan mata yang sering terjadi dan lewat begitu saja. Sebuah petanda perubahan yang mau tidak mau harus segera direspon dengan serius.
Dalam teori semiotika (teori tanda), fenomena gadis di ponsel itu, bisa menjadi petanda yang cukup kongrit bagi setiap konsukwesi perubahan masa depan. Itu tandanya kita sudah berada di titik yang sangat pasti tentang perubahan dan konsukuwensinya. Sebagai seorang putri yang hidup dizaman yang terlanjur seperti ini, gadis itu bisa dikatakan menjadi pahlawan zaman yang memberi tamparan bagi khalayak (orang tua mau pun kita sebagai anak muda) bahwa “ini loh perubahan” fenomena ini menjadi gambaran kongkrit betapa kita semua sangat tidak siap dengan kecendrungan yang mulai berubah. Secara eksplisit kita memang sulit membaca bahwa ada kesalahan yang terjadi dengan kecendrungan perubahan ini, tapi jika periksa lebih jauh, ada semacam pemaksaan sebuah kondisi yang sebenarnya belum siap diterima atau belum sempat diterima khalyak, karena mungkin kecendrungan ini terlalu cepat terjadi atau mungkin kecendrungan ini dipaksakan.
Hal ini terjadi karena masyarakat kita tidak memiliki kelihaian yang jeli tentang bagaimana menilai sebuah fenomena secara kongrit. Misalnya membaca tanda-tanda zaman dan bagaimana kemudian menanggapainya. Kita selalu (terutama yang muda-muda) diberi sesuatu yang hanya berbentuk kata-kata atau arahan-arahan yang sangat jauh dari kenyataan. Tak heran jika generasi harapan bangsa ini selalu saja menjadi tumbal pada wilayah pertanda “zaman telah berubah”.
Sehingga sebagai generasi yang selalu saja menjadi tumbal perubahan, kita sudah seharusnya mulai memodifikasi diri bahkan kelompok untuk lebih jeli lagi dalam pembacaan zaman dan perubahannya. Sehingga perubahan kedepan ini menjadi daya tawar yang kuat bagi kita sebagai genarasi harapan, bukan generasi tumbal. Gadis di ponsel tersebut dilihat sebagai sebuah bentuk pemberontakan zaman atas kungkungan orang tua yang selalu berpura-pura menerima modernisme dan mencampakkan kita dalam dalam situasi jeruji tradisional.
Kita sudah harus membaca zaman, tidak hanya tekstual dan kaku tapi lebih factual dan cermat. Sehingga tidak menjadi bahan cemooh generasi tua yang konserfatif dan kaku. Gadis ponsel sudah terlanjur menjadi korban cemooh orang-orang tua yang kaku dan munafik. Mari kita menjadi gerasi yang mengiakan tindakan gadis ponsel dengan cara giat membaca zaman dan melawan kecendrungan salah orang tua. Di wilayah korupsi, kolusi dan nepotisme.
September 14, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar